Monday, April 21, 2008

Penyebaran Suku Banjar

Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan. Misalnya pantai masih dekat dengan kota Palembang, demikian pula daerah Simongan, Semarang masih merupakan pantai, sedangkan kota Kudus masih berada di pulau Muria terpisah dari daratan pulau Jawa. Keadaan Geomorfologis pada masa itu juga mempengaruhi penyebaran suku-suku bangsa di Kalimantan. Pada jaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, Sungai Barito dan Sungai Tabalong pada jaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Pusat-pusat pemukiman kuno pada masa itu terletak di daerah yang sekarang merupakan wilayah sepanjang kaki pegunungan di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ini berarti bahwa telah terjadi perluasan daratan Kalimantan ke arah laut Jawa sejak ribuan tahun lalu. Menurut pendapat umum, pengaruh Melayu kepada masyarakat Kalimantan lebih dulu terjadi sebelum datangnya pengaruh dari Jawa. Orang Brunei pun juga menyatakan dirinya sebagai keturunan suku Sakai dari pulau Andalas (Sumatera). Pengaruh Melayu juga kita dapatkan pada dialek Bahasa Banjar Amuntai dan Banjarmasin yang mengucapkan huruf r denan cadel.

Melayu (Orang Pahuluan)

Migrasi penduduk ke pulau Borneo telah terjadi sejak tahun 400 yang dibuktikan dengan adanya prasasti yupa peninggalan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur yang mennujukkan adanya masyarakat pendatang yang membwa agama Hindu ke daerah tersebut. Demikian pula di daerah Kalimantan Selatan juga mengalami jejak migrasi penduduk yang panjang. Menurut pendapat sebagian ahli sejarah, orang melayu (melayu kuno) telah datang ke daerah ini pada sekitar abad ke-6. Diperkirakan orang melayu datang melalui selat Karimata yang memisahkan pulau Belitung dengan wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat yang penduduknya saat ini dikenal dengan sebutan orang Melayu Ketapang.

Ketika para imigran orang Melayu (melayu kuno) tersebut yang kemudian dinamakan orang Pahuluan bermigrasi ke wilayah ini (Kalsel), mereka mendarat di sepanjang pesisir sebelah timur teluk raksasa tersebut, dan memasuki sungai-sungai yang berhulu di sepanjang sisi barat pegunungan Meratus dan mendesak suku Maanyan (Dayak Mongoloid) ke arah hulu sungai Tabalong dan sungai Balangan serta mendesak kedudukan Urang Bukit ke hulu sungai di pegunungan Meratus yaitu ke hulu sungai Pitap, sungai Batang Alai, sungai Labuan Amas, sungai Amandit, sungai Tapin, sungai Riam Kanan dan sungai Riam Kiwa. Suku Bukit sebenarnya merupakan orang melayu kuno (Dayak Melayunoid) yang telah datang pada gelombang pertama ke wilayah ini. Jadi Suku Bukit dan suku Maanyan sebelumnya tinggal lebih ke hilir (dekat pesisir pantai) daripada tempat tinggalnya yang sekarang. Orang Pahuluan mendirikan pemukiman yang terpisah dengan orang Bukit dan orang Maanyan. Sebagian orang Pahuluan tersebut mendarat di sekitar kota Tanjung, Tabalong sekarang ini dan mendirikan Kerajaan Tanjung Puri yang di masa tersebut terletak di tidak jauh dari pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan yang tinggal di sebelah hulunya.

Di wilayah pegunungan Meratus di Kabupaten Balangan merupakan perbatasan antara wilayah pengaruh suku Dayak Maanyan dan suku Dayak Bukit, yaitu suku Dayak Dusun Balangan (Dayak Maanyan) yang tinggal hulu sungai Balangan, kecamatan Halong, Balangan di berbatasan dengan suku Dayak Pitap (Dayak Bukit) yang tinggal di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan. Dayak Bukit tidak mengenal adat ngayau seperti pada kebanyakan suku Dayak, dan mereka tinggal secara komunal dalam "balai" yang bentuk hunian memusat seperti pada rumah balai suku Dayak Kendangan di Kalbar.

Dayak Maanyan

Suku Dayak Maanyan (Kelompok Barito Timur) bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggalnya dekat laut, suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar sekitar tahun 600. Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan tersebut. Suku Maanyan dan suku Bukit yang sebelumnya tinggal dekat laut seolah-olah terjebak di daratan dan kehilangan budaya maritim yang mereka miliki sebelumnya.

Wilayah Majapahit

Menurut Kitab Negarakertagama, wilayah lembah sungai Tabalong dan Barito merupakan propinsi Majapahit di kawasan ini. Wilayah Tabalong secara intensif mendapat pengaruh dari pendatang, sehingga berdiri beberapa kerajaan di wilayah ini. Wilayah Tabalong semula merupakan pemukiman Suku Dayak Maanyan. Sedangkan sebagian wilayah Barito merupakan pemukiman dari keturunan suku Dayak Ngaju yaitu suku Dayak Bara Dia (Mangkatip) dan Suku Dayak Bakumpai. Suku Dayak Ngaju (Kelompok Barito Barat) bermigrasi dari arah barat Kalimantan Tengah, merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Kelompok dari Suku Dayak Ngaju yang banyak mendapat pengaruh pendatang adalah suku Dayak Bakumpai dan Barangas. Belakangan pengaruh agama Islam menjadi ciri bagi Suku Dayak Bakumpai dan Barangas.

Orang Batang Banyu

Permukiman orang Pahuluan yang semula merupakan daerah pesisir terletak tidak jauh pantai, sekarang menjadi wilayah sepanjang kaki pegunungan Meratus yang sekarang menjadi kota-kota Tanjung, Paringin, Batu Mandi, Birayang, Barabai, Pantai Hambawang (Labuan Amas), Rantau, Binuang, Karang Intan, Pelaihari dan sebagainya. Mereka mendirikan kampung-kampung bubuhan yang masing-masing berdiri sendiri, diantaranya diperkirakan berhasil membentuk pemerintahan lokal yaitu sebuah "kerajaan bubuhan". Setelah sekian lama berlalu, sebagian Orang Pahuluan akhirnya bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah aluvial berawa-rawa di lembah sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan.

Pada abad ke-14 di wilayah tersebut terbentuk kerajaan yang didirikan Ampu Jatmika, saudagar dari negeri Keling yang membawa agama Hindu dan mendirikan Candi Laras di daerah Margasari, selanjutnya setelah menaklukan daerah lima aliran sungai yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap dan Amandit yang dinamakan daerah Banua Lima, dia kemudian menaklukan wilayah perbukitan yang dihuni orang Bukit (keturunan melayu kuno) dan orang Maanyan (keturunan Ot Danum). Setelah itu dia kemudian mendirikan Candi Agung di Amuntai. Candi-candi tersebut didirikan dengan tiang pancang ulin maupun dengan teknik konstruksi kalang sunduk yang menyesuaikan dengan kondisi tanah lahan basah yang selalu terendam di kala air pasang. Pada masa tersebut beberapa "kerajaan bubuhan" yang merupakan wilayah pemukiman yang masih keturunan sedatuk akhirnya berhasil disatukan dalam satu kesatuan politik yang lebih kuat yaitu "Kerajaan Negara Dipa".

Sekitar tahun 1362 wilayah ini menjadi taklukan Majapahit. Inilah pemukiman masyarakat pendatang dengan pusat keraton yang memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan penduduk asli. Hunian di tepi sungai Negara (sungai Bahan) ini semula terpisah dengan pemukiman orang Pahuluan, orang Bukit (Dayak Melayunoid) maupun orang Maanyan (Dayak Mongoloid) tetapi oleh diffusi kebudayaan keraton Hindu yang dianggap sebagai kebudayaan lebih maju pada jamannya, maka etnis penduduk yang lebih asli tersebut ikut bercampur ke dalam budaya masyarakat Hindu tersebut yang terdiri dan orang Melayu Hindu dan orang Jawa Hindu, percampuran etnis inilah yang merupakan masyarakat "Dayak Heteronoid" yang heterogen yang disebut orang Batang Banyu. "Dayak campuran" seperti ini juga terdapat pada suku Dayak Mualang di Kalbar.

Masyarakat kerajaan Hindu inilah yang juga menjadi cikal bakal suku Banjar yang mungkin dapat kita namakan sebagai orang Hindu Batangbanyu (orang Banjar Hindu). Bahasa yang digunakan di wilayah Batangbanyu sejak abad ke-13 telah mendapat pengaruh bahasa Jawa-Majapahit misalnya kata lawang (pintu), anum (muda) yang berasal dari bahasa Jawa, sedangkan orang Bukit yang tinggal di pegunungan jauh dari pesisir tetap menggunakan beberapa kosa kata bahasa Melayu seperti pintu, muda, dinding, kunyit, padi, balai, dan sebagainya.

Banjar

Wilayah Batang Banyu di Hulu Sungai yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga muaranya di sungai Barito terdiri dari Margasari dan wilayah Banua Lima terdiri dari kota-kota Kelua, Sungai Banar, Amuntai, Alabio, dan Negara.

Dari wilayah inilah "masyarakat Batangbanyu" dipimpin salah seorang bangsawan pelarian dari Kerajaan Hindu (Kerajaan Negara Daha) bermigrasi ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu di kampung Banjarmasih yang merupakan "enclave" perkampungan masyarakat pendatang terdiri dari orang Melayu dan orang Jawa. Perkampungan ini terletak diantara mayoritas perkampungan orang Barangas (Ngaju), selanjutnya berdatangan imigran pendatang baru secara bergelombang hingga terbentuklah Kesultanan Banjarmasih yang juga menimbulkan diffusi kebudayaan keraton kepada masyarakat sekitarnya (orang Barangas).

Dengan berdirinya Kesultanan Banjar maka sesudah tahun 1526 terbentuklah masyarakat yang disebut orang Banjar (Kuala) yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Islamisasi ke pedalaman (Hulu Sungai) begitu intensif sesudah tahun 1526, dan wilayah Kerajaan Negara Daha berhasil ditaklukan sepenuhnya. Sejak tahun 1526 pusat Kerajaan Negara Daha ini dipindahkan oleh Maharaja Tumenggung ke daerah Alai di pedalaman. Berita dari Kesultanan Pasir mengatakan bahwa karena kemelut yang terjadi di kerajaan Kuripan-Daha sekitar tahun 1565, pelarian dari kerajaan tersebut yaitu Tumenggung Duyung dan Tumenggung Tukiu telah mendirikan kerajaan Sadurangas (Pasir) di Kalimantan Timur.

Dengan diterimanya agama Islam oleh orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu sesudah tahun 1526 maka sebutan orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu dapat kita namakan dengan sebutan orang Banjar Pahuluan dan orang Banjar Batangbanyu, sedangkan orang Bukit (urang Bukit) yang sebenarnya masih keturunan Melayu (Dayak Melayunoid) tetap teguh mempertahankan agama suku dan belum menerima agama Islam, maka mereka dikategorikan sebagai "dayak" dengan sebutan Dayak Bukit. Orang Maanyan yang sejak semula menganut agama Kaharingan memang penduduk asli Borneo (orang Dayak), yaitu keturunan Dayak rumpun Ot Danum (Dayak Mongoloid). Suku Banjar merupakan kumpulan etnis yang besar dan kompleks, jadi berbeda dengan suku Dayak Bakumpai, suku Dayak Bara Dia, suku Dayak Dusun Deyah, suku Dayak Maanyan, Suku Dayak Dusun Witu dan lain-lain, masing-masing suku ini merupakan suku yang masih seketurunan sedatuk yang geneologis dan jumlahnya relatif lebih sedikit dari suku Banjar.


Dari wilayah Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.

Migrasi

Migrasi ke Kalimantan Timur

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Kesultanan Pasir Belengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Migrasi ke Kalimantan Tengah

Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (GustiInu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Migrasi ke Sumatera

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Kesultanan Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Indragiri.

Migrasi ke Malaysia

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Negeri Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.

Pembagian Suku Banjar

Sebutan Orang Banjar mulai digunakan sesudah tahun 1526 sejalan dengan proses islamisasi di wilayah inti Kesultanan Banjar sehingga terbentuklah 3 kelompok suku Banjar berdasarkan persfektif historisnya dengan melihat kawasan teritorialnya dan unsur pembentuknya maka suku Banjar dibagi menjadi :

  • Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
  • Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
  • Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)

Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan, dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Wikipedia

Siapakah Urang Banjar Sebanarnya..?

Banjar

Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti Suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya).

Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): ” Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton….Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya”.

Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): “Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.

Suku Banjar di Kalimantan Timur

Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara dan Jempang, Kutai Barat, Samarinda Ulu, Samarinda, Samarinda Ilir, Samarinda (Samarinda), Balikpapan, dan Tarakan.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau (ayahanda Puteri Petung) dari Kerajaan Kuripan (versi lainnya dari Kerajaan Bagalong di Kelua, Tabalong) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Kesultanan Pasir) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Organisasi Suku Banjar di Kalimantan Timur adalah Kerukunan Bubuhan Banjar Kalimantan Timur (KBB-KT).
[sunting]

Suku Banjar di Kalimantan Tengah

Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta’inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama [[Pangeran Adipati Antakusuma.

Suku Banjar yang datang dari lembah sungai Negara (wilayah Batang Banyu) terutama orang Negara (urang Nagara) yang datang dari Kota Negara (bekas ibukota Kerajaan Negara Daha), kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan telah cukup lama mendiami wilayah Kahayan Kuala, Pulang Pisau, yang kemudian disusul orang Kelua (urang Kalua) dari Tabalong dan orang Hulu Sungai lainnya mendiami daerah yang telah dirintis oleh orang Negara. Puak-puak suku Banjar ini akhirnya melakukan perkawinan campur dengan suku Dayak Ngaju setempat dan mengembangkan agama Islam di daerah tersebut.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Suku Banjar terbagi 3 subetnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asliDayak:

* Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
* Banjar Batang banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa
(Maanyan sebagai ciri kelompok)
* Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai,Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)

Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.
Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Suku Banjar di Jawa Tengah

Suku Banjar di Jawa Tengah hanya berkisar 10.000 jiwa, jadi tidak sebanyak di Jambi, Riau dan Sumatera Utara. Suku Banjar terutama bermukim di Kota Semarang dan Kota Surakarta. Di Semarang suku Banjar (dahulu) kebanyakan bermukim di Kampung BanjarMasjid-Kampung Banjar Semarang di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, Semarang. Dahulu kampung ini merupakan wilayah kelurahan Banjarsari, Kecamatan Semarang Tengah yang telah dilikuidasi karenanya adanya penataan wilayah administrasif kota Semarang. Migrasi suku Banjar ke kota Semarang kira-kira pada akhir abad ke-19 dan bermukim di sebelah barat kali Semarang berdekatan dengan kampung Melayu (Ex. Kelurahan Melayu Darat yang telah dilikuidasi). Di wilayah ini suku Banjar membaur dengan suku lainnya seperti suku Arab-Indonesia, Gujarat, Melayu, Bugis dan suku Jawa setempat. Keunikan suku Banjar di kampung ini , mereka mendirikan rumah panggung (rumah ba-anjung) seperti di daerah asalnya, tetapi sayang kebayakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut. Sedangkan di Surakarta suku Banjar kebanyakan bermukim di Kampung Jayengan. Suku Banjar di Surakarta memiliki yayasan Darussalam, yang diambil dari nama Pesantren terkenal yang ada di kota Martapura. Kebanyakan suku Banjar di Jawa Tengah merupakan generasi ke-5 dari keturunan Martapura, Kabupaten Banjar. Tokoh suku Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf asal Martapura, yang pernah menjabat BupKampung Banjar, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utaraati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah. Beliau juga ketua Ikatan Keluarga Kalimantan ke-1, saat ini dijabat Bpk. H Akwan dari Kalimantan Barat. Di samping itu ada pula Ikatan Keluarga Banjar di Semarang, yang diketuai H. Karim Bey Widaserana dari Barabai.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.

Siapakah Urang Banjar Sebanarnya..?

Thursday, April 17, 2008

Syamsul-Gatot Masih Unggul

Hasil Penghitungan Sementara KPU Sumut
Hasil sementara suara Pilkada Sumut versi Komisi Pemilihan Umum, hingga Kamis (17/4) pukul 23.00 WIB masih ungggul pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pudjonugroho dengan total suara 669.871. Sementara pasangan Ali Umri-Maratua 103.687 Tritamtomo-Benny Pasaribu 63.869 RE Siahaan-Suherdi 93.477 dan Wahab-R Syafii 669.871 suara.
Data yang diakses dari penghitungan KPU baru empat kabupaten/kota, yakni Kota Medan, Deliserdang, Serdang Bedagai, dan Kota Binjai. Sedang 25 kabupaten/kota lainnya masih dalam tahap penghitungan di tingkat kecamatan.
Di kota Medan, pasangan Syamsul-Gatot masih terus memimpin dengan perolehan suara 80.394 atau 41,19 persen. Sedangkan Ali Umri-Maratua 20.748 atau 10,63 persen, Tritamtomo-Benny Pasaribu 46.919 atau 24, 04 persen, RE Siahaan-Suherdi 20.258 atau 10,38 persen dan Wahab Dalimunthe-Raden Syafii 26.837 atau 13,75 persen.
Keunggulan pasangan Syampurno juga terjadi di Deliserdang yang memperoleh suara 85,189 atau mencapai 40,87 persen. Sementara, Ali Umri-Maratua meraih 25.534 atau 12,25 persen, Tritamtomo-Benny Pasaribu 50.774 atau 24,36 persen, RE Siahaan-Suherdi 17.351 atau 8,32 persen dan Wahab-Raden Syafii 29.613 suara atau hanya 14,96 persen.
Demikian juga di Serdang Bedagai, pasangan Syamsul-Gatot juga mengungguli kandidat lain yakni meraup 70.959 suara atau meraih 30,86 persen.
Sedangkan Ali Umri-Maratua 45.416 atau 19,75 persen, Tritamtomo-Benny 53.685 atau 23,35 persen, RE Siahaan-Suherdi 25.480 atau 11,08 persen dan Wahab-Raden Syafii 34.410 suara atau hanya 14,96 persen.
Di Binjai, Syamsul-Gatot juga terus unggul yaitu mencapai 14.590 suara atau sebanyak 40,19 persen. Ali Umri-Maratua meraih 11. 989 suara atau 33,02 persen, Tritamtomo-Benny 6.328 atau 17,43 persen, RE Siahaan-Suherdi 780 atau hanya 2,15 persen dan Wahab-Raden Syafii 2.617 atau 7,21 persen.
Pantauan wartawan, dua kendaraan baja dan sejumlah personil Brimob Poldasu dengan senjata lengkap tetap berjaga-jaga di seputaran kantor KPU Sumut.
Mutlak
Selain itu data dari internal tim pemenangan Syampurno DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Medan yang diperoleh dari para saksi di setiap TPS, pasangan Syamsul-Gatot menang mutlak di Medan.
Dari 101 kelurahan di 14 kecamatan di Medan total suara untuk lima pasangan calon masing-masing, Ali Umru-Maratua 10,5 persen atau 54.224 suara, Tri-Ben 22,1 persen atau 113.935 suara. RE Siahaan-Suherdi 11,7 persen atau 58.013 suara, Wahab-R Syafii 14,3 persen atau 73.846 suara dan Syamsul-Gatot 41,8 persen atau 215.000 suara.
“Data ini bukan hasil quick count, tapi langsung dari para saksi yang ditugaskan di TPS,” kata Ketua Tim Pemenangan Syampurno DPD PKS Kota Medan, Surianda Lubis S.Ag kepada wartawan, Kamis (17/4) didampingi Abdul Rahim.
Dijelaskan, dari 151 kelurahan baru 101 yang diperoleh penjumlahan suara dengan jumlah pemilih 515.182 orang dari 1,7 juta pemilih di Kota Medan dengan jumlah TPS 3.278. Masing-masing TPS dijaga 2 orang.
Asumsi awal dari laporan yang masuk, lanjut Suryanda, diprediksi pasangan Syamsul-Gatot memperoleh 48 persen suara di Medan. Saat ini sedang ditunggu laporan jumlah suara dari 6 kecamatan, yakni Kecamatan Medan Baru, Sunggal, Barat, Petisah, Denai dan Medan Area.
Di bagian akhir keterangannya, Suryanda memberikan koreksi terhadap sistem pendataan penduduk, sehingga banyak masyarakat tidak terdaftar sebagai pemilih. Sebaliknya banyak yang sudah meninggal dunia dan pindah alamat masih terdata. (sug/hen/mas)

Asal Muasal Nama Pulau SUMATERA

NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Seorang ******* dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!
Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.
Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.
Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).
Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.
Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian PikiranRakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).
Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.
Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.
Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera
Sumber : Milist Sekolah Rumah

Sejarah Emas

Emas, dalam sejarah perkembangan sistem ekonomi dunia, sudah dikenal sejak 40 ribu tahun sebelum Masehi. Hal itu ditandai penemuan emas dalam bentuk kepingan di Spanyol, yang saat itu digunakan oleh paleiothic man. Dalam sejarah lain disebutkan bahwa emas ditemukan oleh masyarakat Mesir kuno (circa) 3000 tahun sebelum masehi. Sedangkan sebagai mata uang, emas mulai digunakan pada zaman Raja Lydia (Turki) sejak 700 tahun sebelum Masehi. Sejarah penemuan emas sebagai alat transaksi dan perhiasan tersebut kemudian dikenal sebagai barbarous relic (JM Keynes).
Lahirnya Islam sebagai sebuah peradaban dunia yang dibawa dan disebarkan Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan perubahan yang cukup signifikan terhadap penggunaan emas sebagai mata uang (dinar) yang digunakan dalam aktivitas ekonomi dan perdagangan. Pada masa Rasulullah, ditetapkan berat standar dinar diukur dengan 22 karat emas, atau setara dengan 4,25 gram (diameter 23 milimeter). Standar ini kemudian dibakukan oleh World Islamic Trading Organization (WITO), dan berlaku hingga sekarang.
Saat ini, fakta menunjukkan bahwa ada ketidakseimbangan aktivitas perdagangan internasional, yang terjadi akibat tidak berimbangnya penguasaan mata uang dunia, dan ditandai semakin merajalelanya dolar AS. Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan kemunculan Euro sebagai mata uang bersama negara-negara Eropa. Fakta pun menunjukkan bahwa negara-negara Islam memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap kedua mata uang tersebut, terutama dolar AS. Bahkan, dalam transaksi perdagangan international saat ini, dolar AS menguasai hampir 70 persen sebagai alat transaksi dunia (AZM Zahid, 2003).
Dengan didirikannya World Trade Organization (WTO) pada 1 January 1995 sebagai implementasi dari pelaksanaan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan putaran Uruguay, maka liberalisasi perdagangan menjadi konsekuensi yang tidak dapat dielakkan. Tentu saja, semua negara harus siap terlibat dalam skenario global ini, termasuk negara berkembang yang notabene mayoritas Muslim. Pertanyaan besar yang kemudian harus dijawab adalah seberapa besar dampak dan keuntungan yang akan diraih negara-negara Islam dalam pasar internasional.
Penulis berpendapat bahwa ide pemunculan emas sebagi alat transaksi dalam perdagangan internasional ini sesungguhnya merupakan jawaban untuk mengurangi ketergantungan negara-negara Islam terhadap dominasi dua mata uang dunia tersebut (dolar AS dan Euro). Selain itu, ide ini juga dapat digunakan sebagai alat untuk meminimalisasi praktik-praktik spekulasi, ketidakpastian, hutang, dan riba. Terutama yang selama ini terjadi pada aktivitas di pasar uang, di mana hal tersebut terjadi sebagai akibat dari penggunaan uang kertas (fiat money), sehingga menjadi dilema tersendiri bagi negara-negara Islam. Penulis percaya, komitmen untuk menggunakan mata uang bersama dengan memulainya dari transaksi perdagangan, akan banyak memberikan manfaat signifikan.
MekanismePenggunaan emas sebagai alat transaksi perdagangan internasional dapat dilakukan melalui perjanjian pembayaran bilateral (bilateral payment arrangement) maupun perjanjian pembayaran multilateral (multilateral payment arrangement). Perjanjian pembayaran produk yang diperdagangkan akan melalui tahapan dan mekanisme yang melibatkan bank umum, bank sentral, dan custodian emas (penyimpan emas).
Ada empat tahapan yang dilalui dalam mekanisme transaksi perdagangan tersebut. Pertama, adanya perjanjian dagang antara importir dan eksportir yang berada di dua negara yang berbeda, dengan kejelasan kondisi barang dan jumlah barang yang akan ditransaksikan. Tentu saja, sesuai dengan syariat Islam, akad yang terjadi harus bebas dari unsur-unsur gharar, maysir, dan riba.
Kedua, setelah melakukan perjanjian dagang, kemudian pihak importir akan mengeluarkan letter of credit (LC) untuk melakukan pembayaran melalui bank yang sudah ditunjuknya. Selanjutnya, pihak eksportir akan menerima letter of credit (LC) dari bank tersebut. Ketiga, pihak bank yang ditunjuk oleh importir akan segera melakukan pembayaran kepada bank sentral dengan menggunakan mata uang lokal yang kemudian akan mengakumulasikan transaksi kedua negara dengan standar emas hingga masa kliring.
Keempat, setelah masa kliring selesai, bank sentral negara importir akan mentransfer emas senilai dengan transaksi perdagangan kedua negara kepada pihak custodian emas yang telah ditunjuk, untuk selanjutya diserahkan kepada bank sentral negara eksportir. Bank sentral negara eksportir ini selanjutnya akan melakukan pembayaran dalam mata uang lokal kepada bank yang telah ditunjuk oleh eksportir. Kemudian bank tersebut akan menyerahkannya kepada pihak eksportir.
Mekanisme di atas jelas memiliki kelebihan dibandingkan dengan menggunakan mata uang asing lainnya. Kedua negara tidak akan mengalami fluktuasi nilai mata uang, yang seringkali menjadi hambatan dalam transaksi perdagangan. Bahkan, telah banyak fakta yang menunjukkan bahwa fluktuasi mata uang dapat mengakibatkan kehancuran perekonomian sebuah negara. Dengan mekanisme tersebut pula, stabilitas perekonomian akan lebih mudah dicapai, mengingat nilai emas yang relatif lebih stabil. Sehingga diharapkan, volume perdagangan antarnegara Islam dapat berkembang. Di sinilah dituntut peran OKI dan Islamic Development Bank (IDB) untuk dapat merumuskan konsep yang lebih matang terhadap gagasan ini. Keuntungan secara politis akan dirasakan oleh negara-negara Islam, karena nilai tawar yang dimilikinya terhadap Barat dan kekuatan lainnya menjadi semakin tinggi. Meskipun demikian, harus diakui bahwa mekanisme tersebut juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan pertama, ketersedian emas yang tidak merata di antara negara-negara Islam, sehingga dapat menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan.
Kelemahan kedua, masih tingginya ketergantungan dunia Islam terhadap produk yang dihasilkan oleh negara-negara non-Muslim (baca: Barat), terutama terhadap produk-produk industri dengan teknologi tinggi. Kelemahan ketiga, nilai transaksi perdagangan yang masih sangat kecil sesama anggota OKI, yang menyebabkan signifikansi emas menjadi tidak terlalu substantif. Untuk itu, komitmen dan kesungguhan para pemimpin dunia Islam beserta pemerintahannya sangat dibutuhkan. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, sudah sepantasnya jika Indonesia diharapkan dapat memainkan peran yang lebih aktif, konstruktif, dan produktif. Indonesia memiliki peluang untuk mendorong terealisasinya blok perdagangan OKI, meskipun tantangan dan hambatannya tidak sedikit, terutama dari negara-negara Barat melalui kaki tangan mereka (IMF dan Bank Dunia).
Jika saja blok perdagangan ini dapat terwujud, maka bisa dibayangkan bahwa dunia Islam akan menjadi salah satu center of power yang strategis dan diperhitungkan, sehingga kondisi unipolar akan kembali berganti menjadi multipolar. Namun demikian, hal tersebut kembali berpulang pada Presiden SBY beserta tim ekonominya, maukah mereka menjadi inisiator proses tersebut? Wallahu a’lam (sumber Irfan Syauqi Beik, Msc )

EMAS SEBAGAI PENANGKAL INFLASI

Banyak orang percaya emas adalah produk investasi yang bisa menangkal inflasi. Dan memang, sejarah membuktikan emas akan diborong orang apabila terjadi kepanikan yang bisa membahayakan ekonomi negara, seperti inflasi tinggi, krisis keuangan, atau perang.
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Inflasi bisa menggerogoti uang Anda. Kalau asumsi inflasi 15 persen/tahun, maka harga barang & jasa yang sekarang bernilai Rp 5 juta, akan menjadi Rp 10,06 juta atau dua kali lipat pada tahun ke-6, dan Rp 15,3 juta atau tiga kali lipat pada tahun ke-9, dan seterusnya.
Menurut keparahannya, ada tiga tipe inflasi:
Inflasi Moderat, yaitu apabila laju inflasi hanya berada di bawah dua digit per tahun (di bawah 10 persen)
Inflasi Ganas, yaitu apabila laju inflasi berada pada dua digit per tahun (10 persen - 99 persen)
Inflasi Hiper, yaitu apabila laju inflasi berada pada tiga digit per tahun (100 persen atau lebih) Tulisan ini akan membahas tentang apa yang bisa Anda lakukan agar bisa menghadapi inflasi. Bila Anda bukan termasuk pengambil keputusan di pemerintahan, Anda mungkin tidak bisa ikut menurunkan tingkat inflasi. Yang bisa Anda lakukan sebagai individu, hanyalah bagaimana agar Anda bisa mengambil 'keuntungan' dari terjadinya inflasi tersebut. Bagaimana caranya? Saya menyarankan agar Anda melakukan investasi pada instrumen yang akan naik pesat apabila terjadi inflasi tinggi. Apa itu? Emas.
Ketika Cina diserbu Jepang pada masa Perang Dunia, rakyat Cina panik dan mereka berbondong-bondong menyerbu emas sehingga harga emas naik luar biasa. Di Indonesia, pada saat terjadi rush kebutuhan pokok di pasar swalayan pada 8 Januari 1998 (pagi hari sebelum pengumuman APBN oleh Presiden Suharto di hadapan DPR), harga emas juga langsung melonjak. Dalam selang satu dua hari saja, harga emas langsung naik kurang lebih sebanyak 1,5 kali. Dan harga tersebut, walaupun secara fluktuatif, cenderung naik terus waktu itu --sebelum akhirnya turun lagi ketika inflasi kembali berada di bawah dua digit.
Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi kenaikan harga emas. Statistik menunjukkan bahwa bila inflasi mencapai 10 persen, maka emas akan naik 13 persen. Bila inflasi 20 persen, maka emas akan naik 30 persen. Tetapi bila inflasi 100 persen, maka emas Anda akan naik 200 persen. Inilah kenapa Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam bentuk emas. Ini karena emas dipercaya sebagai investasi penangkal inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin baik kenaikan nilai emas yang Anda miliki. Tetapi, patut dicatat bahwa harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah, bahkan cenderung sedikit menurun apabila laju inflasi di bawah dua digit. Jadi, emas hanya akan bagus bila terjadi inflasi moderat (dua digit), dan akan lebih bagus lagi bila terjadi inflasi hiper (tiga digit). Investasi emas
Emas tersedia dalam beberapa pilihan. Beberapa di antaranya yang paling dikenal adalah emas perhiasan dan emas batangan. Satu yang juga mulai populer di Indonesia adalah koin emas.
Bila Anda berinvestasi emas untuk jangka pendek, biasanya akan sulit mendapatkan keuntungan kalau bentuknya emas perhiasan. Ini karena kalau Anda datang ke toko dan membeli emas perhiasan, Anda harus membayar harga emas plus ongkos pembuatannya. Nah, ketika suatu saat Anda menjualnya kembali, maka toko tidak akan mau membayar ongkos pembuatan dari perhiasan emas tersebut. Ia hanya akan membayar harga emasnya saja. Malah, masih untung sebetulnya kalau toko mau menerima emas perhiasan Anda. Beberapa toko kadang-kadang menolak penjualan emas perhiasan dari masyarakat. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah karena mereka takut kalau-kalau emas perhiasan itu tidak laku lagi apabila dijual. Jadi, kalaupun mereka membelinya lagi, mereka harus melebur emas tersebut.
Karena itu, investasi dalam bentuk emas perhiasan lebih untung kalau disimpan untuk jangka panjang. Karena biasanya harga emas Anda sudah naik jauh dibanding ketika Anda membelinya.
Emas perhiasan tersedia dalam berbagai macam karat, di antaranya 18 - 24 karat. Untuk investasi, alangkah baiknya bila Anda memilih emas perhiasan senilai 24 karat. Ini karena kemungkinan emas perhiasan Anda bisa dijual kembali jauh lebih besar dibanding emas perhiasan yang 18 karat. Sekali lagi, investasi dalam bentuk emas perhiasan biasanya baru akan memberikan hasil yang menguntungkan dalam jangka panjang, bukan jangka pendek.
Investasi emas yang menurut saya cukup baik adalah investasi emas dalam bentuk batangan (emas logam mulia). Emas ini cukup baik bila dijadikan investasi, dan siapapun tak menyangkal bahwa emas batangan -berbeda dengan emas perhiasan- mudah untuk dijual kembali. Selain itu, emas batangan tidak meminta ongkos pembuatan seperti halnya emas perhiasan. Karena itu, bila Anda ingin melakukan investasi emas, maka tak ada salahnya Anda mempertimbangkan investasi dalam bentuk emas batangan.
Lainnya adalah Koin Emas ONH (ongkos naik haji). Maksudnya, dari koin emas ini diharapkan bisa sebagai alternatif investasi bagi mereka yang ingin menabung untuk mempersiapkan biaya ibadah Haji.
Penamaan ONH ini sebetulnya hanya taktik pemasaran saja. Kenyataannya, walau namanya Koin Emas ONH, tetapi investasi ini sama saja dengan investasi emas lainnya karena harga emasnya sama saja. Harganya sama dengan harga emas yang mengikuti harga mata uang asing (dolar AS), dan aman terhadap inflasi. Artinya, orang yang tidak beragama Islam sekalipun bisa berinvestasi dalam Koin Emas ONH ini karena sebetulnya investasi ini sama saja dengan investasi emas lainnya. Bahkan, penamaan ONH pada Koin Emas tersebut sebetulnya akan sangat menguntungkan pemegangnya, karena emas tersebut akan lebih memiliki positioning yang lebih baik dalam pemasarannya.
Koin Emas ONH dapat dibeli dan dijual kembali di cabang-cabang PT Pegadaian di seluruh Indonesia, toko emas, dan unit pengolahan dan pemurnian logam mulia PT Aneka Tambang Tbk. Ukurannya mulai dari berat 1, 5, dan 10 gram.

Wednesday, April 16, 2008

Syampurno Unggul di Beberapa Daerah

Tanjung Balai, (Analisa)
Pasangan Cagubsu H Syamsul Arifin SE dan Cawagubsu Gatot Pudjo Nugroho ST (Syampurno) yang diusung 11 partai memenangkan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) di Binjai, Rabu (16/4).
Dari Tabulasi data sementara yang diterima Analisa dari hasil "Quick Count" Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama Syampurno Kota Binjai, pasangan Syampurno (Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho) memperoleh sekitar 43,64 persen suara disusul pasangan Umma (Ali Umri-Maratua Simanjuntak) dengan memperoleh suara 35,47 persen, pasangan Tri-Ben (Tri Tamtomo-Beny Pasaribu) 13,91 persen suara, pasangan Waras (Abdul Wahab Dalimunthe-Raden Syafii) 4,61 persen suara dan pasangan RE Siahaan-Suherdi memperoleh 2,36 persen suara.
Tanjung Balai
Sedang di Tanjung Balai, pasangan Syampurno untuk sementara unggul di beberapa TPS seperti Teluk Nibung, Tanjung Balai Utara, Sei Tualang Raso dan Datuk Bandar dalam pemilihan Gubsu.
Sementara Tritamtomo-Benny Pasaribu (Triben) berhasil unggul di beberapa TPS di kawasan pertokoan.
Pantauan Analisa di beberapa lokasi atau TPS, hasil perolehan suara sementara lima pasangan calon Gubsu dan wagubsu yakni di TPS 7 Kelurahan TB IV Tanjung Balai Utara pasangan Syampurno (47 suara), Pasangan H Abdul Wahab Dalimunthe-Raden Syafii (Waras) (24 suara), H Ali Umri-Maratua Simanjuntak (Umma) (24 suara), Tirben (6 suara) dan pasangan RE Siahaan-H Siherdi (Pass) (4 suara).
Di TPS 4 Kelurahan Muara Sentosa Kecamatan Sei Tualang Raso untuk pasangan Syampurno (48 suara), Waras (38 suara), Umma (22 suara), Pass (3 suara) dan Triben (2 suara).
Sementara itu di TPS perkotaan seperti TPS 1 Kelurahan Perwira Tanjung Balai Selatan pasangan Triben (52 suara), Umma (33 suara), Syampurno (24 suara), Pass (24 suara), Waras (12 suara).
Di TPS V Tekap Kelurahan Sirantau Datuk Bandar pasangan Pass (97 suara), Triben (69 suara), Waras (1 suara), Syampurno (3 suara) dan Umma (0 suara).
Sementara itu, data pemilih yang terdaftar di DPT yang tidak menggunakan hak pilih diperkirakan mencapai 50 persen.
Jumlah pemilih sebanyak 50 persen yang tidak hadir ke TPS sampai penghitungan suara terjadi hampir di seluruh TPS se kota Tanjung Balai.
Dari TPS yang terpantau secara acak di beberapa kelurahan dan kecamatan seperti TPS 7 TB IV Tanjung Balai Utara jumlah DPT 216 dan yang hadir 109 orang.
TPS 4 Kelurahan Muara Sentosa Sei Tualang Raso jumlah DPT 213 dan yang hadir 113 orang. Di TPS V Kelurahan Sirantau Datuk Bandar jumlah DPT 355 yang hadir 176 orang dan di TPS I Perwira Tanjung Balai Selatan jumlah DPT 313 yang hadir 148 orang.
Di Kisaran
Pasangan Ali Umri dan Maratua Simanjuntak unggul di Tempat Pemungutan Suara (TPS) VI Jalan Akasia lingkungan III kelurahan Mekar Baru tempat Bupati Asahan Drs H Risuddin yang juga Ketua Umum DPD Partai Golkar Asahan, Rabu (16/4).
Sedang di TPS XII Mekar Baru tempat Wakil Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang MAP pasangan H Syamsul Arifin, SE-Gatot Pujo Nugroho unggul 45 suara disusul pasangan H Abdul Wahab-H Raden Syafi’i 17 suara, Ali Umri-Maratua Simanjuntak 13 suara dan RE Siahaan-H. Suherdi 10 suara serta H Tritamtomo-Benny Pasaribu 5 suara.
Sementara itu, tempat TPS Ketua DPRD Asahan Drs Bustami yang juga kordinator pemenangan pasangan Syamsul Arifin- Gatot Pujo Nugroho, pasangan Umma 17 suara, Triben 12 suara, RE Siahaan 8 suara, Waras 41 suara dan Syampurno 41 suara.
Di TPS II kelurahan Selawan Kisaran Timur tempat Ketua DPC PDI Perjuangan Asahan Saipul Hamri memberikan suara, pasangan Syampurno unggul 66 suara, disusul Waras 47 suara, Triben 35, UMMA 29, PASS 16 suara.
Di TPS VIII Kisaran Timur atau di halaman kantor PWI Asahan Jalan Sisingamangaraja pasangan Syampurno juga unggul meraih 56 suara, disusul Waras 44 suara, Umma 14 suara, Triben 4 suara, PASS nihil.
Di kampung halaman Wakil Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang, M.AP, di Desa Tinggi Raja Kecamatan Buntupane, total dari seluruh TPS dengan jumlah pemilih 2700 orang, hadir 1637 orang, pasangan Syampurno juga menang dengan perolehan 869 suara, disusul Waras 479 suara, Triben 124 suara, Umma 111 suara dan RE Siahaan 54 suara.
Meskipun belum diperoleh data-data hasil kemenangan dari seluruh TPS di Kabupaten Asahan, namun perhitungan cepat yang dilakukan Tim Pemenangan Syampurno di kantor DPC PPP, pasangan Syampurno menang.
“Berdasarkan data-data yang kami peroleh untuk Asahan, Syamsul Arifin menang,” kata Ketua DPC PPP Asahan Drs Darwis Sirait.
Gunungsitoli
Hasil pemilihan Gubernur Sumatera Utara di beberapa TPS di Kecamatan Gunungsitoli dan sekitarnya, pasangan H Abdul Wahab Dalimunte SH dan Raden Syafii,SH (WARAS) memimpin angka tertinggi 874 suara.
Menyusul pasangan Tri Tamtomo- Beni Pasari dengan 766, pasangan RE Siahan-Suherdi 693, Syamsul-Gatot Pujo Nugroho 507 dan pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak 181 suara.
Pantau Analisa, dalam Pilgubsu ini animo masyarakat untuk memilih sangat kurang. Hal ini terbukti dengan jumlah kertas suara yang terpakai di setiap TPS rata-rata hanya sekitar 45-50 persen.
Tebing Tinggi
Berdasarkan data sementara dari Desk Pilgubsu Pemko Tebing Tinggi, pasangan Cagubsu/Cawagubsu H Syamsul Arifin, SE dan Gatot Pujonugroho unggul dari empat calon lainnya.
Peserta atau pemilihan Gubernur Sumatera untuk daerah Kota Tebing Tinggi dengan jumlah pemilih 94.634, diperkirakan lebih kurang 45 persen masyarakat Kota Tebing Tinggi tidak ikut melakukan pemilihan.
Pasalnya dari jumlah pemilih tersebut hanya 54 persen warga ini yang ikut memilih, selebihnya tidak menggunakan hak suaranya.
Berdasarkan data sementara diperoleh dari lima Kecamatan dengan jumlah pemilih 94.634, masyarakat menggunakan hak pilihnya sebanyak 56.530 atau sekira 59,7 persen, sedang yang tidak menggunakan hak pilihnya 38.104 atau sekira 40,3 persen.
Kecamatan Padang Hilir dengan jumlah TPS sebanyak 53 sedang pemilih 19.377 orang, menggunakan hak pilihnya sebanyak 10.406 atau sekira 53,7 persen.
Di Kecamatan Padang Hilir ini pasangan Cagub/Cawagub Syampurno meraih 4.213 suara, Waras 2.840 suara, Triben 2.248 suara, Umma 1.317 dan Pass 1.174.
Kecamatan Rambutan 53 TPS, dengan jumlah pemilih 19.096 orang, menggunakan hak pilihnya 11.761 atau 61,6 persen. Pasangan Syamporno meraih 5.090 suara, Waras 2.352 suara, Triben 2.158 suara, Umma 1.203 suara dan Pass 958 suara.
Di Kecamatan Padang Hulu 55 TPS dengan jumlah pemilih 17.377 orang, menggunakan hak pilih 7.585 orang atau 43,6 persen. Pasangan Syamporno meraih 4.356 suara, Triben 1.786 suara, Waras 1.672 suara, Umma 1.462 dan Pass 1.130.
Di Kecamatan Bejenis dengan jumlah TPS 58 sedang jumlah pemilih 20.399 orang, menggunakan hak pilihnya 10.542 atau 51,9 persen. Pasangan Syamporno meraih 5.194 suara, Triben 2.345 suara, Waras 2003 suara, Umma 1.598 suara dan Pass 1.026 suara.
Di Kecamatan Tebing Tinggi Kota dengan jumlah TPS 52 dan jumlah pemilih sebanyak 18.385 orang yang menggunakan hak pilihnya 10.405 orang atau 56,6 persen. Pasangan Triben 3.406 suara, Syamporno 3.365 suara, Waras 1.667, Umma 1.194 suara dan Pass 773.
Dari rekapitulasi sementara Desk Pilgubsu Pemko Tebing Tinggi tersebut pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho meraih 22.218 suara, Waras 10.534 suara, Triben 11.943 suara, Umma 6.774 suara dan Pass 5.061 suara.
Walikota Tebing Tinggi, Ir H.Abul Hafiz Hasibuan serta Ny. Hj Aisyah Siregar setelah menggunakan hak pilihnya di TPS 1 Kelurahan Rambung mengatakan, memprediksi kalau masyarakat Kota Tebing Tinggi menggunakan hak pilihnya sebanyak 60 hingga 70 persen sudah bagus.
“Banyak warga yang merantau, pindah dan lain lain. Persentase bisa menjadi contoh dan evaluasi kita ke masa yang akan datang,” imbuh walikota
Serdang Bedagai
Berdasarkan hasil perhitungan sementara yang diperoleh Analisa di kantor Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai pasangan Cagub dan Wacagub Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) unggul dengan memperoleh suara sebanyak 3668 sura dari 11.563 suara pemilih yang hadir.
Namun dari hasil pantauan Analisa harian ini ke beberapa TPS di Kecamatan Sei Tanjung Beringin,hingga batas waktu pencoblosan jam 13.00 WIB rata-rata pemilih yang datang ke TPS yang sudah ditentukan hanya mencapai sekitar 48 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar padahal pemerintah sudah menetapkan pada hari pemilihan Gubsu dan Wagubsu 2008 merupakan hari libur.
Akibat banyak pemilih yang tidak hadir untuk menggunakan hak pilihnya terlihat sepi,sementara para petugas di TPS-TPS terlihat santai dan menunggu sampai batas waktu yang telah ditentukan.
Dari data yang ada di kantor PPK Kecamatan Tanjung Beringin bahwa jumlah pemilih sebanyak 25.054 pemilih yang tersebar di 54 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di delapan desa yang ada di kecamatan itu,namun setelah dilakukan perhitungan sura sementara yang dikumpulkan dari (TPS) jumlah pemilih yang hadir hanya 11.653 orang, sedang yang tidak hadir sebanyak 13.411 orang. Sama dengan 52 persen yang tidak hadir
Menurut perhitungan perolehan suara sementara pasangan Cagubsu dan Wacabsu periode 2008-2013 di Kecamatan Tanjung Beringin, pasangan Ali Umri dan Maratua Simanjunjak sebanyak 2.184 suara,pasangan Tri-Ben 2.383 suara, pasangan RE,Siahaan dan Suherdi 1779 suara, pasangan Wahab dan Raden Syafi’i 1.488 dan pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugrpoho memperoleh 3.668 suara, sedang suara tidak sah saebanyak 151 suara.
Kabanjahe
Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Gubernur Sumatera Utara (Pilkada Gubsu) yang digelar, Rabu (16/4)mulai pukul 07.00 sampai dengan 13.00 untuk memilih salahsatu dari lima pasangan calon berjalan dengan tertib, lancar dan aman, namun kehadiran para pemilih untuk datang ke TPS khusus Kota Kabanjahe dan Berastagi hanya berkisar 50-60 persen, sementara dipedesaan kehadiran pemilih untuk dating memberikan suaranya mencapai 60-72 persen.
Hal ini dikatakan Ketua KPUD Karo kepada wartawan, Rabu (16/4) sore usai pihaknya memonitoring pelaksanaan Pilkada Gubsu di sejumlah desa dari 17 Kecamatan yang ada diKabupaten Karo.
Ditambahkannya ketidak hadiran para pemilih ke TPS-TPS yang telah ditentukan sehingga banyak kartu pemilih dan kartu C6 tersisa di petugas Pilkada Gubsu di disebabkan banyak faktor, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat berpolitik.
Hasil perolehan suara Pemilihan Kepala daerah Gubernur Sumatera Utara di sejumlah Kecamatan di Kabupaten Karo seperti Kecamatan Kabanjahe diungguli pasangan Ir RE Siahaan dan Suheri disusul pasangan Tritamtomo-Ir Benny Pasaribu, ketiga pasangan AliUmri-Maratua Simanjuntak, keempat pasangan Syamsul Arifin-Gatot dan kelima A Wahab Dalimunthe-Syafii.
Kecamatan Berastagi diungguli Tritamtomo-Benny Pasatibu dengan jumlah suara 4170, Pasangan Ir RE Siahaan-Suheri 3840, Syamsul Arifin-Gatot 3113, pasangan AliUmri-Maratua 1567, dan pasangan Dalimunthe-Syafii 977.
Sementara di kecamatan Simpang Empat Uunggul pasangan Tritamtomo-Benny Pasaribu dengan perolehan suara 3166, disusul Ir Re Siahaan 2807, pasangan AliUmri-Maratua 1140, Dalimunthe-Syafii 651 dan pasangan Syamsularifin 574, dan 14 kecamatan lainnya belum dapat diperolah informasinya.
Pancur Batu
Di TPS Khusus Rumah Tahanan Negara Cabang Pancur Batu, pasangan Tri-Ben unggul 6 suara, disusul pasangan Ali Umri 2 suara, sedangkan pasangan No.4 tidak mendapat suara sedangkan pasangan No. 5 mendapat 1 suara, jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya 10 orang terdiri dari 5 orang PNS Rutan, dan 5 Napi.
Ketua TPS J.Sitanggang kepada wartawan membenarkan, sebelumnya diusulkannya ke PPK agar sejumlah 170 orang pemilih di Rutan mendapat kartu pemilih, tetapi yang dikirimkan PPK hanya 10 lembar, kata Sitanggang.
Di Kecamatan Pancur Batu jumlah pemilih 40.490 orang, jumlah TPS 99 buah. Di Kecamatan Sibolangit jumlah pemilih 12.529 orang, jumlah TPS 52. Di Kecamatan Sibiru-Biru jumlah pemilih 20.006, jumlah TPS 52. Di Kecamatan Namorambe jumlah pemilih 17.361, jumlah TPS 56.
Di Kecamatan Delitua jumlah pemilih 30.888, jumlah TPS 61. Di Kecamatan Kutalimbaru jumlah pemilih 20.000, jumlah TPS 72. Di Kecamatan Medan Tuntungan jumlah pemilih 93.000 dan jumlah TPS 127.
Indrapura
Pilgubsu di Batubara Rabu (16/4) berjalan aman dan lancar namun disayangkan banyak warga yang tidak menggunakan hak pilihnya rata-rata mereka yang hadir ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada setiap kecamatan antara 50 sampai 75 persen.
Laporan yang diterima Analisa tiga dari tujuh kecamatan yang ada di Batubara perolehan suara didominasi pasangan Syampurno menyusul Umma.
Ketiga kecamatan tersebut Medangderas Sei Balai dan Airputih. Khusus di Airputih, dari 32.218 pemilih yang terdaftar, yang menggunakan hak pilihnya hanya 18.251 suara, sama dengan 56,65 persen.
Pasangan nomor urut lima, Syampurno meraih 6.323 suara. Syampurno unggul pada delapan desa. Umma menang di desa Tanah Tinggi. PASS unggul di Pematangpanjang dan Limau Sunde. Triben di Tanjungkubah. Umma meraih 3.674 suara menyusul Triben 3.629 suara. PASS 3.103 suara dan Waras terminim 1.584 suara.
Empat Kecamatan lain di Batubara, Tanjungtiram, Talawi, Limapuluh dan SeiSuka laporannya belum diterima.
Padang Sidimpuan
Pasangan calon Gubernur Sumatera Utara Abdul Wahab Dalimunthe dan Raden Safei’I untuk sementara unggul dalam pemilihan Gubernur yang digelar di sejumlah TPS di Kota Padangsidimpuan, Rabu (16/4).
Menurut data yang diperoleh Analisa dari sejumlah TPS, Waras unggul sementara dengan perolehan suara terbanyak sebesar 17529 suara, sedang diurutan kedua pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak dengan perolehan suara sementara 11.886 suara, diurutan ketiga Syamsul Arifin-Gatot dengan 6361 suara, keempat Tritamtomo-Benny Pasaribu 4.420 dan urutan kelima RE Siahaan dan Suherdi 3.385 suara.
Kemenangan Waras juga terlihat di TPS 20 kelurahan Ujung Padang tempat pencoblosan Walikota Padang Sidimpuan, Drs.Zulkarnain Nasution, MM, di mana Waras mendapat suara sebanyak 77, disusul UMMA 60, Syampurno 15, Triben 5, PASS 0.
Sidikalang
Pasangan Cagubsu/Wagubsu Ir RE Siahaan–Ir Suherdi memimpin sementara perolehan suara di Kabupaten Dairi.
Data yang diterima wartawan dari desk pilkada kabupaten di ruang jojong kantor Bupati Dairi di Sidikalang menyebutkan, dari lima kecamatan dengan laporan final, tercatat kandidat nomor tiga ini menang mutlak.
Di Kecamatan Silima Pungga-pungga pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak (1) meraih 602 suara, Tritamtomo –Benny Pasaribu (2) 1393 suara, RE Siahaan-Suherdi (3) 3836 suara, Abdul Wahab Dalimunthe-Syafii (4) 270 dan Syamsul Arifin -Gatot (200).
Sementara itu, di Kecamatan Berampu pasangan nomor 1 (673 suara), nomor 2 (504 suara), nomor 3 (992 suara), nomor 4 (368 suara), nomor 5 (357 suara).
Selanjutnya, di Kecamatan Sitinjo calon nomor 1 (618 suara), nomor 2 (1437 suara), nomor 3 (1515 suara), nomor 4 (125 suara), nomor 5 (295 suara).
Di Kecamatan Parbuluan, nomor 1 (718 suara), nomor 2 (2957) suara, nomor 3 (3569 suara), nomor 4 (179 suara), nomor 5 (202 suara). Di Kecamatan Pegagan hilir, nomor 1 (589 suara), nomor 2 (1208 suara), nomor 3 (2402 suara, nomor 4 (267 suara), nomor 5 (261 suara).
Rata-rata di TPS terdapat kealpaan pemilih mencapai 30 persen. Di Desa Bintang Marsada Kecamatan Sidikalang yang terdiri dari 3 TPS misalnya, tercatat DPT sebanyak 1297 orang sedang yang hadir hanya 793 orang atau 60,90 persen.
Dari pantauan lapangan di Kecamatan Sidikalang dan Sitinjo, hampir keseluruhan TPS didominasi RE Siahaan-Suherdi. Angka yang diraih tersebut bersaing ketat dengan perolehan Triben yang diusung PDI Perjuangan.
Begitu pun, di beberapa lokasi, petikan angka Triben mampu unggul meninggalkan kandidat nomor tiga tersebut.
Sementara, kendati agenda berlangsung aman, keributan hampir saja terjadi di Jalan Batu Kapur Kelurahan Huta Gambir. Seratusan warga marah menyusul tidak diterimanya kartu pemilih padahal mereka sudah berpuluh tahun tinggal di sana.
Hal serupa ditemui di Desa Huta Rakyat. Nelson Siahaan (42) dan Simon Lumban Tobing (66) mengatakan, masyarakat sangat kecewa dan tidak berterima atas bobroknya pendataan pemilih yang dilakukan Pemkab Dairi. (anaf/als/hpg/gsp/aln/cha/kap/ps/dr/al/hih/ssr/dp)

Syamsul Arifin Sujud Syukur di Masjid Raya dan Ziarah ke Makam T Rizal Nurdin

Medan, (Analisa)
Sosok H Syamsul Arifin yang maju mencalonkan diri sebagai gubernur Sumatera Utara (Gubsu) berpasangan dengan Gatot Pudjo Nugroho, tetap tampak biasa, walau tak bisa menyembunyikan rasa kegembiraannya ketika hasil quick count (perhitungan cepat) oleh Lembaga Survei Indonesia dan Lingkaran Survei Indonesia, dirinya mendapat angka tertinggi pada pemilihan gubernur, 16 April 2008.
Merasa dirinya yakin menang, usai salat magrib berjamaah di Masjid Raya Al Mansun Jalan Sisingamangaraja Medan, Sahabat Semua Suku itu pun sujud syukur.
“Ya Allah, puji syukur engkau telah memberi aku amanah yang sangat besar memimpin Sumatera Utara. Bimbing aku ke jalan-Mu untuk menjalankan amanah ini,” ucapnya di atas sajadah.
Kepada wartawan, diungkapkan, “Saya teringat ketika menjual kue keliling dan tukang cuci sampan di Brandan, kini mendapat amanah yang besar mengurus provinsi yang berpenduduk sekira 12 juta jiwa.”
Diakuinya, dia hanya bercita-cita ingin jadi bupati, tetapi Allah berkehendak lain. “Setelah bupati dua periode di Kabupaten Langkat, dan kini insya Allah menjadi Gubsu,” katanya kepada wartawan ketika akan menuju ke makam almarhum T Rizal Nurdin, sebelah Masjid Raya.
Di atas makam mantan orang nomor satu di Sumut itu, Syamsul Arifin berdoa dengan khusu’. Matanya terlihat berkaca-kaca dan sesekali ia menghapus air matanya yang tanpa sadar keluar dari ‘sarang’-nya.
Mulai Tugas
Ditanya, mengapa harus sujud syukur di Masjid Raya dan ziarah ke makam T Rizal Nurdin, “awal pemasangan atribut kampanye saya mulai dari masjid ini, begitu juga saat mencabut atribut sebagai pertanda berakhirnya kampanye. Sekarang ada peluang besar saya memenangkan ‘pertarungan’ ini, maka saya mulai tugas sebagai gubernur dengan bersujud syukur di Masjid Raya ini,” kata Syamsul Arifin didampingi Ketua DPW PPP Sumut H Fadly Nurzal S.Ag.
Alasan ziarah ke makam Rizal Nurdin, menurut Syamsul, “Almarhum adalah guru dan idola saya. Dialah (almarhum-red) yang melantik saya sebagai bupati,” ujar Syamsul Arifin.
Disinggung visi-misinya, Syamsul berjanji tidak akan lupa akan janji-janji yang diusung pada saat kampanye. Di antaranya bagaimana rakyat tidak lapar, yaitu membenahi sektor pertanian, peternakan dan nelayan.
Kedua rakyat tidak bodoh, dengan meningkatkan kualitas pendidikan, dan ketiga rakyat jangan sakit, dengan menanamkan cinta kesehatan. Keempat rakyat harus yakin dengan masa depannya.
Visi dan misinya itu akan dilakukan dengan berkoordinasi dengan seluruh elemen legislatif, eksekutif, dan pemerintah kabupaten/kota. Terpenting membagi tugas dengan wakilnya Gatot Pudjo Nugroho.
“Mas Gatot akan melakukan kontrol terhadap visi dan misi kami. Selama satu bulan, dua minggu saya akan keliling ke kabupaten/kota untuk melayani rakyat,” katanya.
Kemenangan Masyarakat Sumut
Lebih lanjut untuk menyukseskan kerjanya, ia akan melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten daerah dan legislatif. Karena APBD Sumut 2008 sudah diputuskan di DPRD, jadi harus koordinasi dengan semua elemen pemerintahan.
Di bagian akhir, Syamsul Arifin menyampaikan kepada masyarakat secara umum, bahwa kemenangan ini adalah kemenangan masyarakat Sumatera Utara. “Saya dan Mas Gatot setelah dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur adalah milik masyarakat, bukan milik partai politik. Karena tugas gubernur adalah abdi rakyat,” katanya.
Namun, dia meminta kepada seluruh elemen masyarakat untuk menunggu keputusan KPU siapa calon terpilih dengan damai. Diimbau, siapa pun yang dipilih rakyat, semua harus berlapang dada, ujar Syamsul Arifin. (sug/foto: ferdy)
Teks FotoTEMU PERS: Pasangan Cagubsu-Cawagubsu, Syamsul Arifin (kiri) didampingi Gatot Pudjo Nugroho memberikan keterangan pers sambil melinangkan air mata di Kantor Kemenangan Syampurno, Rabu (16/4). Pasangan nomor urut lima ini berdasarkan hasil quick count (perhitungan cepat) oleh Lembaga survei Indonesia untuk sementara unggul dari pasangan lainnya hingga mencapai suara 28,72 persen.

Kejatisu Periksa Sejumlah Camat dan Bendahara

Kejaksaan Tinggi Sumut (Kejatisu) memeriksa sejumlah camat dan bendahara terkait kasus dugaan korupsi proyek pembuatan parit atau goronggorong di Kota Medan, senilai Rp10,6 miliar dari APBD 2006-2007.
Pemeriksaan ini dilakukan pihak Kejatisu yakni Tim Intel Kejatisu setelah mengambil alih pelaksanaan penyelidikan kasus dugaan korupsi atau penyimpangan pelaksanaan proyek pembuatan parit ini dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan.
Pantauan wartawan di gedung Kejatisu Selasa (15/4) siang, terlihat beberapa oknum camat dan bendahara di kecamatan Kota Medan terlihat diperiksa secara terpisah di ruang kerja Intel Kejatisu.
Informasi diperoleh, pemeriksaan sejumlah oknum camat dan bendahara ada sekitar empat orang. Hanya saja identitas camat dan bendahara kecamatan itu belum diketahui.
Informasi lain, pemanggilan pemeriksaan beberapa oknum camat dan bendahara itu untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan penyimpangan pelaksanaan proyek pembuatan parit seluruh wilayah Kota Medan.
Selain itu informasi lainnya, surat pemanggilan untuk dilakukannya pemeriksaan terhadap Camat Medan Selayang berinisial RH telah dilaksanakan Tim Intel Kejatisu. Namun mengenai kapan dan waktu pemanggilan tidak diketahui.
Sementara Asisten Intelijen (Asintel) Kejatisu, M Yusni SH ketika dikonfirmasi via telepon menyangkut pemeriksaan atas sejumlah oknum camat dan bendahara di kecamatan Kota Medan enggan memberikan komentar dan mengarahkan wartawan agar menanyakannya pada Humas Kejatisu.
Edi Irsan SH selaku Humas Kejatisu saat ditemui tidak berani membenarkan terkait pemeriksaan itu. Ia mengatakan tidak bisa memberikan komentar terkait pemeriksaan sejumlah oknum camat dan bendahara di kecamatan Kota Medan.
Alasannya kasus ini masih dalam tahap Pengumpulan Bahan Keterangan (Pulbaket) dan masih dilakukan penyelidikan oleh Tim Intel Kejatisu.
“Kasus yang masih tahap Lid (penyelidikan) belum bisa kita informasikan,” jelas Edi Irsan di ruang kerjanya.
Berita sebelumnya, dugaan penyimpangan dana APBD tahun 2006-2007 senilai Rp10,6 miliar disinyalir proyek fiktif di lapangan yang melibatkan Dinas PU Medan oknum camat.
Isu lain berkembang penyimpangan dana APBD ini diduga juga melibatkan oknum Kabag Pemko Medan dan oknum Kasubdis di Dinas PU Medan.
Diketahui Pemko Medan memberikan anggaran kepada setiap kecamatan untuk pembuatan parit. Setiap kecamatan mendapat dana proyek senilai Rp350 juta-500 juta. (dn/Mas)