VIVAnews - Di dunia bisnis nasional Martua Sitorus tak banyak dikenal. Namun, nama ini masuk dalam daftar 1.000 orang terkaya dunia versi majalah Forbes.
Bila tahun lalu dia menempati peringkat 522 terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan US$ 1,4 miliar, kini kekayaan Martua meningkat menjadi US$ 3,0 miliar. Peringkat pun terdongkrak menjadi 316.
Martua sempat menyandang orang terkaya di Indonesia ke 7 pada 2007 dan ke 14 pada 2006 versi majalah yang sama. Meski berkebangsaan Indonesia, dia saat ini tinggal di Singapura sambil menyetir semua bisnis-bisnisnya.
Martua lahir 49 tahun lalu di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia sarjana ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan, yang kecilnya dikenal dengan nama Thio Seng Hap dan dikenal juga dengan panggilan A Hok.
Martua memulai karir bisnisnya sebagai pedagang minyak sawit dan kelapa sawit di Indonesia dan Singapura. Bisnisnya berkembang pesat. Pada 1991 Martua mampu memiliki kebun kelapa sawit sendiri seluas 7.100 hektar di Sumatera Utara. Pada tahun yang sama pula Martua bisa membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertamanya.
Warga Batak keturunan Tionghoa kemudian melebarkan sayapnya dengan bendera Wilmar International Limited. Perusahaan agrobisnis terbesar di Asia ini merupakan perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Singapura. Bahkan, untuk pabrik biodiesel, dia memiliki produksi terbesar di dunia. Meski sebagai pemilik, Martua masih menduduki jabatan direktur eksekutif di Wilmar.
Pembangunan biodiesel dilakukan di Riau pada 2007 dengan membangun tiga pabrik biodiesel, masing-masing memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun, sehingga total kapasitasnya 1,050 juta ton per tahun.
Di negeri ini, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania. Dalam laporan keuangan Wilmar, total aset Wilmar pada 2007 mencapai US$ 15,5 miliar, dengan pendapatan US$ 16,46 miliar. Pada tahun itu Wilmar juga bisa membukukan laba bersih US$ 675 juta.
hadi.suprapto@vivanews.com
Thursday, March 11, 2010
Sunday, March 7, 2010
Bakso Cak Eko Ingin Go International
Tak hanya penyanyi Agnes Monica saja yang go international, ternyata waralaba bakso malang 'Cak Eko' juga ingin merambah dunia internasional. Waralaba milik Henky Eko Sriyantono yang akrab disapa Cak Eko ini ingin go international ke negara-negara ASEAN.
Cak Eko mengatakan rencananya untuk go international ini akan direalisasikan tahun 2010 ini. Namun rencananya ini tidak begitu mulus, dirinya sedang ngebut memenuhi persyaratan legal dan transfer pengetahuan.
"Karena harus transfer knowledege, legal, jadi 6 bulan itu paling cepat," katanya saat ditemui detikfinance di Franchise Expo di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (6/3/2010).
Maju terus pantang mundur adalah kalimat tersebut yang pantas terlontarkan untuk Henky Eko Sriyantono atau biasa dipanggil Cak Eko. Sepuluh kali gagal dalam berbisnis, rupanya tidak mengalahkan semangatnya untuk kembali memutar modalnya dalam dunia tersebut.
Cak Eko memulai bisnis bakso malangnya di sebuah pelataran Pujasera di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat sekitar tahun 2006 dengan bermodalkan Rp 2,5 juta.
"Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat," ujarnya.
Sebelumnya, Cak Eko pernah merambah bisnis pakaian muslim, tanaman jahe, katering, kerajinan barang atik, dan sebagainya. Namun, karena penerimaannya tidak berjalan dengan lancar, dia menghentikan bisnis tersebut. Dengan bermodalkan hobi masaknya sejak SMA, Cak Eko mulai berinovasi ke dunia kuliner dengan membuat usaha bakso Malang tersebut.
"Gagalnya itu mungkin segmen yang saya bidik kurang, waktu katering karena konsumen bosan dengan menu yang saya putar-putar, cash flow-nya tidak harian jadi tidak lancar," ceritanya.
Hanya dalam kurun waktu 10 bulan, bisnis bakso Cak Eko berkembang dengan pesat. Sekitar Oktober 2006, dia mulai mengembangkan brand-nya melalui sistem franchise. Hingga saat ini sekitar 120 outlet Bakso Malang Kota "Cak Eko" tersebar di Indonesia.
"Alasannya untuk memperkenalkan brand dan bagi-bagi rezeki," tuturnya.
Untuk outlet yang tersebar itu, dirinya memberikan bakso dan olahan siomay dan batagor dengan bumbu-bumbu yang telah disiapkan secara instan dalam bentuk bubuk. Terdapat 3 tempat produksi untuk memenuhi permintaan dan suplai ke outlet-outlet.
"Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidorjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu,"ungkapnya.
Kesuksesan Cak Eko membuat dirinya dipanggil untuk berbagi pengalaman dalam sekolah enterpreneurship bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung dalam sekolah ini agar tidak ada orang yeng mengalami pengalaman buruk seperti dirinya dalam berbisnis.
"Supaya mereka tidak mengalami hal yang sama dengan saya sampai 10 kali gagal," kenangnya.
Menurut Cak Eko, kegagalan dalam berbisnis itu bisa disebabkan beberapa hal, seperti kesalahan memilih mitra. Selain itu, bisnis yang pendapatannya tidak harian juga bisa berpotensi kegagalan. Begitu pun karena tidak memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis.
"Saya waktu itu tidak memisahkan uang pribadi dan usaha, jadinya kacau," jelasnya.
Cak Eko mengimbau dalam berbisnis, jika terjadi kenaikan harga, sebaiknya pebisnis jangan terlalu terburu-buru menaikkan harga, karena daya beli masyarakat belum tentu naik. Selain itu, pemula sebaiknya jangan terpengaruh dengan iming-iming keuntungan besar dalam berbisnis padahal mereka tidak tahu ilmu mengenai bidang yang akan digelutinya itu.
"Banyak yang tidak tahu ilmu langsung terjun, hanya diming-imingi keuntungannya karena saat ini banyak yang ingin sukses secara instan, prosesnya tidak dilewati langsung lompat-lompat saja. Ini yang jadi masalah," jelasnya.
Untuk mengatasi kompetitor, Cak Eko menyarankan untuk memberikan perbedaan dalam kualitas produk. Hal ini memerlukan inovasi. Selain itu, perlunya penguatan brand melalui promosi.
"Untuk mengatasi kompetitor, menciptakan perbedaan dengan kompetitor melalui kualitas dan promosi. Kuncinya di inovasi dan menjaga kualitas," ujarnya.
detikcom - Minggu, 7 Maret
Cak Eko mengatakan rencananya untuk go international ini akan direalisasikan tahun 2010 ini. Namun rencananya ini tidak begitu mulus, dirinya sedang ngebut memenuhi persyaratan legal dan transfer pengetahuan.
"Karena harus transfer knowledege, legal, jadi 6 bulan itu paling cepat," katanya saat ditemui detikfinance di Franchise Expo di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (6/3/2010).
Maju terus pantang mundur adalah kalimat tersebut yang pantas terlontarkan untuk Henky Eko Sriyantono atau biasa dipanggil Cak Eko. Sepuluh kali gagal dalam berbisnis, rupanya tidak mengalahkan semangatnya untuk kembali memutar modalnya dalam dunia tersebut.
Cak Eko memulai bisnis bakso malangnya di sebuah pelataran Pujasera di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat sekitar tahun 2006 dengan bermodalkan Rp 2,5 juta.
"Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat," ujarnya.
Sebelumnya, Cak Eko pernah merambah bisnis pakaian muslim, tanaman jahe, katering, kerajinan barang atik, dan sebagainya. Namun, karena penerimaannya tidak berjalan dengan lancar, dia menghentikan bisnis tersebut. Dengan bermodalkan hobi masaknya sejak SMA, Cak Eko mulai berinovasi ke dunia kuliner dengan membuat usaha bakso Malang tersebut.
"Gagalnya itu mungkin segmen yang saya bidik kurang, waktu katering karena konsumen bosan dengan menu yang saya putar-putar, cash flow-nya tidak harian jadi tidak lancar," ceritanya.
Hanya dalam kurun waktu 10 bulan, bisnis bakso Cak Eko berkembang dengan pesat. Sekitar Oktober 2006, dia mulai mengembangkan brand-nya melalui sistem franchise. Hingga saat ini sekitar 120 outlet Bakso Malang Kota "Cak Eko" tersebar di Indonesia.
"Alasannya untuk memperkenalkan brand dan bagi-bagi rezeki," tuturnya.
Untuk outlet yang tersebar itu, dirinya memberikan bakso dan olahan siomay dan batagor dengan bumbu-bumbu yang telah disiapkan secara instan dalam bentuk bubuk. Terdapat 3 tempat produksi untuk memenuhi permintaan dan suplai ke outlet-outlet.
"Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidorjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu,"ungkapnya.
Kesuksesan Cak Eko membuat dirinya dipanggil untuk berbagi pengalaman dalam sekolah enterpreneurship bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung dalam sekolah ini agar tidak ada orang yeng mengalami pengalaman buruk seperti dirinya dalam berbisnis.
"Supaya mereka tidak mengalami hal yang sama dengan saya sampai 10 kali gagal," kenangnya.
Menurut Cak Eko, kegagalan dalam berbisnis itu bisa disebabkan beberapa hal, seperti kesalahan memilih mitra. Selain itu, bisnis yang pendapatannya tidak harian juga bisa berpotensi kegagalan. Begitu pun karena tidak memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis.
"Saya waktu itu tidak memisahkan uang pribadi dan usaha, jadinya kacau," jelasnya.
Cak Eko mengimbau dalam berbisnis, jika terjadi kenaikan harga, sebaiknya pebisnis jangan terlalu terburu-buru menaikkan harga, karena daya beli masyarakat belum tentu naik. Selain itu, pemula sebaiknya jangan terpengaruh dengan iming-iming keuntungan besar dalam berbisnis padahal mereka tidak tahu ilmu mengenai bidang yang akan digelutinya itu.
"Banyak yang tidak tahu ilmu langsung terjun, hanya diming-imingi keuntungannya karena saat ini banyak yang ingin sukses secara instan, prosesnya tidak dilewati langsung lompat-lompat saja. Ini yang jadi masalah," jelasnya.
Untuk mengatasi kompetitor, Cak Eko menyarankan untuk memberikan perbedaan dalam kualitas produk. Hal ini memerlukan inovasi. Selain itu, perlunya penguatan brand melalui promosi.
"Untuk mengatasi kompetitor, menciptakan perbedaan dengan kompetitor melalui kualitas dan promosi. Kuncinya di inovasi dan menjaga kualitas," ujarnya.
detikcom - Minggu, 7 Maret
Friday, March 5, 2010
Lapan: Badai Matahari Terjadi Antara 2012-2015
Film fiksi ilmiah '2012' yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.
"Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari," ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).
Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.
"Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia," imbuhnya.
Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.
"Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah," jelas Elly.
Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.
Lapan pun berniat mensosialisasikan dampak aktivitas matahari ini ke masyarakat. Sosialisasi Fenomena Cuaca Antariksa 2012-2015 pun akan digelar di Gedung Pasca Sarjana lantai 3, Universitas Udayana, Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali pada 9 Maret 2010 pukul 11.00 Wita.
Detikcom
"Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari," ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).
Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.
"Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia," imbuhnya.
Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.
"Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah," jelas Elly.
Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.
Lapan pun berniat mensosialisasikan dampak aktivitas matahari ini ke masyarakat. Sosialisasi Fenomena Cuaca Antariksa 2012-2015 pun akan digelar di Gedung Pasca Sarjana lantai 3, Universitas Udayana, Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali pada 9 Maret 2010 pukul 11.00 Wita.
Detikcom
Wednesday, February 3, 2010
Live dari Pangkalan Susu, IMSS Tampil di Indodefence 2008

Display Sytem yang merupakan subsistem dari Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) TNI AL menjadi bagian materi pameran Indodefence 2008 di stand Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Indodefence 2008 digelar mulai tanggal 19 hingga 22 Nopember 2008, bertempat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
IMSS TNI AL merupakan sistem pemantauan wilayah maritim nasional melalui pendirian beberapa stasiun radar pantai di sepanjang wilayah perairan tertentu. Setiap stasiun radar pantai dilengkapi dengan sarana surveillance berupa Radar, AIS (Automatic Identification System) receiver, dan Camera. Disamping itu, untuk mengolah dan menampilkan data-data kapal yang tertangkap peralatan surveillance, stasiun radar pantai dilengkapi pula dengan sejumlah aplikasi, mulai dari pemroses data, sistem display, pengirim pesan, dan pengirim data ke markas besar.
Data tersebut secara real time dikirimkan ke markas besar dan pusat komando di atasnya sebagai bahan monitoring situasi laut. Data dari sejumlah titik diintegrasikan menjadi satu tampilan, sehingga bisa terbentuk sistem pemantauan wilayah perairan nasional yang terintegrasi.
IMSS TNI AL dibangun oleh Infoglobal bekerjasama dengan perusahaan Singapura, Ogusi Pte Ltd, untuk ditempatkan di TNI AL. Pembangunan sistem ini merupakan bagian dari komitmen Infoglobal membantu memberikan dan mengembangkan solusi sistem terbaik, khususnya alutsista untuk pertahanan dan keamanan negara melalui TNI AL. Sistem ini terintegrasi dengan informasi selain surveillance, diantaranya dengan data hasil laporan unsur di lini depan operasi yang dikirimkan melalui telegram, data situasi atau kejadian penting di laut, dan data dislokasi pasukan yang sedang ditugaskan.
Pada saat pameran Indodefence 2008 tersebut, IMSS TNI AL menampilkan data-data tangkapan stasiun radar pantai yang ditempatkan di Pangkalan Susu secara real time dan langsung (live). Data tersebut ditampilkan ke Display System yang dipasang selama pameran berlangsung dan dioperasikan oleh salah seorang perwira TNI AL. “Ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih TNI AL dalam pengamanan Selat Malaka,” jelas Laksma Iwan Kustiyawan, Kepala Dinas Informasi dan Pengolahan Data TNI AL yang langsung memimpin tim selama pameran berlangsung.
IMSS TNI AL menghubungkan stasiun radar pantai di beberapa titik, Guskamlabar di Batam, Mako Armada Barat di Jakarta, Mako Kormar di Jakarta, dan Markas Besar TNI AL Cilangkap Jakarta melalui jaringan VPN/VSAT IP berkecepatan tinggi. (beh)
Integrated Maritime Surveillance System


Integrated Maritime Surveillance System
Trident’s Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) is designed for governments and other appropriate authorities challenged with demanding Maritime Domain Awareness (MDA) and Common Operating Picture (COP) requirements.
The IMSS is a tightly integrated network of ship and shore based sensors, communications devices and computing resources that collect, transmit, analyze and display a broad array of disparate data including automatic information system (AIS), radar, surveillance cameras, global positioning system (GPS), equipment health monitors and radio transmissions of maritime traffic in a wide operating area. Redundant sensors and multiple communications paths make the system robust and still functional even in the case of a major component failure.
The clever open architecture and purposeful use commercial off-the-shelf components provides the customer tremendous flexibility in making performance-cost trade offs today and in making capability upgrades and additions tomorrow.
from : http://www.technosci.com/trident/imss.php
Radar Intai Maritim Dari AS Beroperasi di Sumatera Akhir 2008
Jakarta, PAB-Online
Delapan radar intai maritim hibah dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dibangun di sepanjang pesisir barat Sumatra ditargetkan beroperasi akhir 2008.
"Dari delapan unit radar itu, baru di Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam) Batam yang telah selesai dan mulai operasional, seperti dikutif waspada sebelumya, sedangkan sisanya masih dalam tahap penyelesaian," kata Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Iskandar Sitompul di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, pemasangan delapan radar intai maritim dari AS yang diberi nama "Proyek 1206" itu akan diletakkan di Sabang, Kreung Geukeuh, Ibe Rayeuk, Bandar Khalifa, Sigli, Belawan, Batam dan Tanjung Balai Karimun.
Seluruh radar tersebut masing-masing akan dioperasionalkan oleh 13 personel prajurit TNI AL yang telah mendapat pelatihan dan alih teknologi dari para teknisi Techno-Science AS. "Untuk Batam dan Sabang, pelatihan terhadap 13 prajurit TNI Al telah berlangsung pada pertengahan Juli 2008," ungkap Iskandar.
Sedangkan, untuk personel TNI AL yang akan mengawaki radar di Kreung Geukeuh, Ibe Rayeuk, Bandar Khalifa, Sigli, Belawan, dan Tanjung Balai Karimun, ada mendapat pelatihan pada pertengahan Agustus 2008. "Dengan begitu, maka delapan radar AS radar dan empat radar RI akan terintegrasi dalam satu sistem pengintaian maritim dan dapat beroperasi pada akhir 2008," ujar Iskandar.
Untuk pengamanan wilayah barat Sumatra yang berbatasan dengan Selat Malaka, pemerintah Indonesia membangun empat radar di Bengkalis, Sinaboi, Tanjang Balai Asahan dan Pangkalan Susu yang kini sudah beroperasi.
Empat radar itu akan diintegrasikan dengan delapan radar intai maritim hibah dari AS dalam satu sistem yakni "Integrated Maritime Surveillance System" (IMSS), hingga seluruh wilayah RI di Selat Malaka dan keamanan selat terpadat di dunia itu dapat benar-benar terpantau.
"Rencananya integrasi akan dipusatkan di Batam dan Belawan," kata Iskandar menambahkan.
Kedua belas radar intai maritim itu memiliki jangkauan 25 hingga 30 mil laut.
(IP/An/PAB)
Delapan radar intai maritim hibah dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dibangun di sepanjang pesisir barat Sumatra ditargetkan beroperasi akhir 2008.
"Dari delapan unit radar itu, baru di Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam) Batam yang telah selesai dan mulai operasional, seperti dikutif waspada sebelumya, sedangkan sisanya masih dalam tahap penyelesaian," kata Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Iskandar Sitompul di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, pemasangan delapan radar intai maritim dari AS yang diberi nama "Proyek 1206" itu akan diletakkan di Sabang, Kreung Geukeuh, Ibe Rayeuk, Bandar Khalifa, Sigli, Belawan, Batam dan Tanjung Balai Karimun.
Seluruh radar tersebut masing-masing akan dioperasionalkan oleh 13 personel prajurit TNI AL yang telah mendapat pelatihan dan alih teknologi dari para teknisi Techno-Science AS. "Untuk Batam dan Sabang, pelatihan terhadap 13 prajurit TNI Al telah berlangsung pada pertengahan Juli 2008," ungkap Iskandar.
Sedangkan, untuk personel TNI AL yang akan mengawaki radar di Kreung Geukeuh, Ibe Rayeuk, Bandar Khalifa, Sigli, Belawan, dan Tanjung Balai Karimun, ada mendapat pelatihan pada pertengahan Agustus 2008. "Dengan begitu, maka delapan radar AS radar dan empat radar RI akan terintegrasi dalam satu sistem pengintaian maritim dan dapat beroperasi pada akhir 2008," ujar Iskandar.
Untuk pengamanan wilayah barat Sumatra yang berbatasan dengan Selat Malaka, pemerintah Indonesia membangun empat radar di Bengkalis, Sinaboi, Tanjang Balai Asahan dan Pangkalan Susu yang kini sudah beroperasi.
Empat radar itu akan diintegrasikan dengan delapan radar intai maritim hibah dari AS dalam satu sistem yakni "Integrated Maritime Surveillance System" (IMSS), hingga seluruh wilayah RI di Selat Malaka dan keamanan selat terpadat di dunia itu dapat benar-benar terpantau.
"Rencananya integrasi akan dipusatkan di Batam dan Belawan," kata Iskandar menambahkan.
Kedua belas radar intai maritim itu memiliki jangkauan 25 hingga 30 mil laut.
(IP/An/PAB)
Selamatkan Mangrove Langkat!
Bambang Hendra Sutoyo//batara/
sumut pos
LANGKAT-Hutan Langkat Timur Laut terus menyusut, bahkan terancam punah. Hamparan hutan bakau (mangrove) di pesisir Langkat meliputi Kecamatan Secanggang, Tanjung Pura, Gebang, Berandan Barat hingga Pangkalan Susu yang luasnya mencapai ribuan hektar, kini bakal tinggal cerita, jika tidak segera diselamatkan.
Wartawan koran ini yang kemarin, Minggu (15/11), ke lokasi okupasi hutan lindung itu menyaksikan ganasnya alat-alat berat itu membabat hutan bakau.
Kondisi yang paling parah terdapat di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Pangkalan Susu. Ribuan hektar hutan bakau habis hingga ke pinggir pantai.
Aparat Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), beberapa waktu lalu, pernah melakukan razia ke lokasi tersebut. Aparat penegak hukum tersebut berhasil menyita delapan unit ekskavator milik pengusaha perambah hutan lindung itu. Namun, beberapa hari pasca-razia itu, okupasi lahan oleh sejumlah pengusaha itu berlangsung kembali. Sayangnya, pasca-razia yang dilakukan pihak Kejatisu, hingga kemarin tak ada lagi tindakan tegas terhadap para perambah tersebut.
Meski banyak pihak telah merusak hutan bakau, namun tak sedikit pula warga yang memberikan perhatian serius. Di antaranya, Abdul Jalil (60), Warga Dusun I Janggus, Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan Barat.
Pria yang menghabiskan waktunya sebagai penanam bibit bakau ini menyayangkan lemahnya pengamanan di kawasan hijau oleh aparatur pemerintah hingga mengakibatkan hancurnya hutan bakau di pesisir Langkat.
“Dalam hal ini yang pertama saya kritik adalah pemerintah, karena lemahnya pengamanan terhadap kawasan hutan bakau Langkat, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan yang begitu parah hingga nyaris punah,” kritik Jalil yang sudah beberapa kali mendapat penghargaan atas dedikasinya terhadap rehabilitasi hutan bakau di Langkat.
Dia juga sangat menyayangkan pihak-pihak yang merusak hutan bakau demi kepentingan pribadi atau kelompok. “Kalau begini terus, bisa-bisa kawasan pesisir Langkat tenggelam,” rekanya.
Selain berpengaruh dengan kondisi daerah, hilangnya hutan bakau ini juga sangat berpengaruh dengan kehidupan nelayan di pesisir, karena bagaimanapun, lahan mencari nafkah nelayan berada di rimbunnya hutan bakau. “Kalau dulu, nelayan hanya mencari ikan dan udang di akar-akar bakau saja, tapi sekarang coba lihat, sampai tengah laut lepas sana pun, belum tentu mereka dapat,” katanya prihatin.
Untuk itu, bilangnya, perlu perhatian khusus terutama ketegasan pemerintah untuk mengawasi dan menindak tegas perambah hutan bakau yang dan tidak seenaknya memberikan izin atau kesempatan kepada pengusaha untuk merusak, bahkan melenyapkan hutan bakau yang menjadi pelindung dan penyokong hidup nelayan tradisional.
Selain itu, warga juga harus proaktif untuk menghijaukan kembali hutan bakau yang ada di daerah mereka masing-masing, sehingga sedikit demi sedikit, hutan bakau Langkat dapat tumbuh kembali seperti semula, meski akan memakan waktu yang relative lama. “Dalam hal ini, masyarakat juga harus turut serta untuk menyelamatkan hutan bakau secara bersama-sama,” harapnya.
Terpisah, Adi (58), warga Kelurahan Alur Dua Baru, Kecamatan Seilepan, Langkat, yang sehari-hari mengantungkan nasibnya sebagi nelayan tradisonal mengatakan, sejak dirinya melaut tahun 1972 silam, kondisi hutan bakau jauh berubah, malah saat ini kondisinya sudah mulai punah. “Jauh kali bedanya dulu dengan sekarang, kalau dulu, kiri kanan palu saja dipenuhi bakau, tapi sekarang, mau lihat rindangnya bakau saja sudah sulit,” ketus ayah anak tiga ini. (ndi)
Mengedukasi Masyarakat Pesisir
Upaya mengembalikan hutan bakau di pesisir pantai timur terus dilakukan, meski sebagian pihak terus melakukan pembabatan. Adalah Bambang Hendra Sutoyo, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) yang terus berjuang merehabilitasi hutan bakau tersebut.
Bersama sejumlah LSM, dia tak lelah mengedukasi dan membina masyarakat untuk menghijaukan kembali hutan bakau. Sejak lima tahun lalu, dia dan rekan-rekannya berjuang agar hutan bakau mulai pesisir Banda Aceh hingga Pantai Labu bisa dikembalikan seperti semula.”Menanam itu, mudah yang sulit bagi kita adalah bagaimana memelihara serta merawat tanaman yang baru ditanam,” bilangnya.
Dengan aksi tersebut, dia berharap pada 2020 Indonesia bisa mendapatkan devisa dari pajak karbon. Menurutnya, sesuai Protokol Kyoto tentang perubahan iklim, setiap negara yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dengan melakukan konservasi hutannya, akan mendapat pajak karbon dari negara-negara penghasil gas karbon.
“Oleh karenanya, sejak sekarang kita membina masyarakat sekitar kita untuk menanam pohon dan menghijaukan hutan bakau, sehingga negara ke depan bisa meraih devisa dari pajak karbon,” bilangnya. Bambang berharap, pemerintah telah memikirkan pendapatan dari hal ini, bukan hanya memikirkan bagaimana caranya menghasilkan devisa dengan mengeksplotasi alam tanpa mempertimbangkan dampak kerusakan yang ditimbulkanya. “Devisa bukan hanya dari perut bumi,” sebutnya. (btr)
sumut pos
LANGKAT-Hutan Langkat Timur Laut terus menyusut, bahkan terancam punah. Hamparan hutan bakau (mangrove) di pesisir Langkat meliputi Kecamatan Secanggang, Tanjung Pura, Gebang, Berandan Barat hingga Pangkalan Susu yang luasnya mencapai ribuan hektar, kini bakal tinggal cerita, jika tidak segera diselamatkan.
Wartawan koran ini yang kemarin, Minggu (15/11), ke lokasi okupasi hutan lindung itu menyaksikan ganasnya alat-alat berat itu membabat hutan bakau.
Kondisi yang paling parah terdapat di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Pangkalan Susu. Ribuan hektar hutan bakau habis hingga ke pinggir pantai.
Aparat Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), beberapa waktu lalu, pernah melakukan razia ke lokasi tersebut. Aparat penegak hukum tersebut berhasil menyita delapan unit ekskavator milik pengusaha perambah hutan lindung itu. Namun, beberapa hari pasca-razia itu, okupasi lahan oleh sejumlah pengusaha itu berlangsung kembali. Sayangnya, pasca-razia yang dilakukan pihak Kejatisu, hingga kemarin tak ada lagi tindakan tegas terhadap para perambah tersebut.
Meski banyak pihak telah merusak hutan bakau, namun tak sedikit pula warga yang memberikan perhatian serius. Di antaranya, Abdul Jalil (60), Warga Dusun I Janggus, Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan Barat.
Pria yang menghabiskan waktunya sebagai penanam bibit bakau ini menyayangkan lemahnya pengamanan di kawasan hijau oleh aparatur pemerintah hingga mengakibatkan hancurnya hutan bakau di pesisir Langkat.
“Dalam hal ini yang pertama saya kritik adalah pemerintah, karena lemahnya pengamanan terhadap kawasan hutan bakau Langkat, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan yang begitu parah hingga nyaris punah,” kritik Jalil yang sudah beberapa kali mendapat penghargaan atas dedikasinya terhadap rehabilitasi hutan bakau di Langkat.
Dia juga sangat menyayangkan pihak-pihak yang merusak hutan bakau demi kepentingan pribadi atau kelompok. “Kalau begini terus, bisa-bisa kawasan pesisir Langkat tenggelam,” rekanya.
Selain berpengaruh dengan kondisi daerah, hilangnya hutan bakau ini juga sangat berpengaruh dengan kehidupan nelayan di pesisir, karena bagaimanapun, lahan mencari nafkah nelayan berada di rimbunnya hutan bakau. “Kalau dulu, nelayan hanya mencari ikan dan udang di akar-akar bakau saja, tapi sekarang coba lihat, sampai tengah laut lepas sana pun, belum tentu mereka dapat,” katanya prihatin.
Untuk itu, bilangnya, perlu perhatian khusus terutama ketegasan pemerintah untuk mengawasi dan menindak tegas perambah hutan bakau yang dan tidak seenaknya memberikan izin atau kesempatan kepada pengusaha untuk merusak, bahkan melenyapkan hutan bakau yang menjadi pelindung dan penyokong hidup nelayan tradisional.
Selain itu, warga juga harus proaktif untuk menghijaukan kembali hutan bakau yang ada di daerah mereka masing-masing, sehingga sedikit demi sedikit, hutan bakau Langkat dapat tumbuh kembali seperti semula, meski akan memakan waktu yang relative lama. “Dalam hal ini, masyarakat juga harus turut serta untuk menyelamatkan hutan bakau secara bersama-sama,” harapnya.
Terpisah, Adi (58), warga Kelurahan Alur Dua Baru, Kecamatan Seilepan, Langkat, yang sehari-hari mengantungkan nasibnya sebagi nelayan tradisonal mengatakan, sejak dirinya melaut tahun 1972 silam, kondisi hutan bakau jauh berubah, malah saat ini kondisinya sudah mulai punah. “Jauh kali bedanya dulu dengan sekarang, kalau dulu, kiri kanan palu saja dipenuhi bakau, tapi sekarang, mau lihat rindangnya bakau saja sudah sulit,” ketus ayah anak tiga ini. (ndi)
Mengedukasi Masyarakat Pesisir
Upaya mengembalikan hutan bakau di pesisir pantai timur terus dilakukan, meski sebagian pihak terus melakukan pembabatan. Adalah Bambang Hendra Sutoyo, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) yang terus berjuang merehabilitasi hutan bakau tersebut.
Bersama sejumlah LSM, dia tak lelah mengedukasi dan membina masyarakat untuk menghijaukan kembali hutan bakau. Sejak lima tahun lalu, dia dan rekan-rekannya berjuang agar hutan bakau mulai pesisir Banda Aceh hingga Pantai Labu bisa dikembalikan seperti semula.”Menanam itu, mudah yang sulit bagi kita adalah bagaimana memelihara serta merawat tanaman yang baru ditanam,” bilangnya.
Dengan aksi tersebut, dia berharap pada 2020 Indonesia bisa mendapatkan devisa dari pajak karbon. Menurutnya, sesuai Protokol Kyoto tentang perubahan iklim, setiap negara yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dengan melakukan konservasi hutannya, akan mendapat pajak karbon dari negara-negara penghasil gas karbon.
“Oleh karenanya, sejak sekarang kita membina masyarakat sekitar kita untuk menanam pohon dan menghijaukan hutan bakau, sehingga negara ke depan bisa meraih devisa dari pajak karbon,” bilangnya. Bambang berharap, pemerintah telah memikirkan pendapatan dari hal ini, bukan hanya memikirkan bagaimana caranya menghasilkan devisa dengan mengeksplotasi alam tanpa mempertimbangkan dampak kerusakan yang ditimbulkanya. “Devisa bukan hanya dari perut bumi,” sebutnya. (btr)
Subscribe to:
Posts (Atom)