Sunday, March 17, 2013

10 Negara Pemilik Cadangan Emas


Liputan6.com, New York : Bank-bank sentral di dunia kini sudah mendiversifikasi cadangan devisa di negara mereka dengan emas. Tercatat, pembelian emas oleh Bank-bank Sentral global mencapai 534,6 metrik ton pada 2012 lalu.
World Gold Council melaporkan kepemilikan emas global secara resmi meningkat menjadi 31.671,4 ton per Maret 2013. Ingin tahu Bank Sentral mana saja yang menjadi pemilik cadangan emas terbanyak di dunia.
Berikut 10 negara pemilik cadangan emas terbanyak di dunia, seperti dikutip dari laman Businessinsider, Senin (18/3/2013):
1. Amerika Serikat  
Kepemilikan emas resmi : 8.133,5 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 75,6%
AS memiliki volume cadangan emas terbesar pada 1952, ketika cadangannya mencapai 20.663 ton.  Kepemilikan emas jatuh pertama kali di bawah angka 10K pada 1968.
2. Jerman  
Kepemilikan emas resmi : 3.391,3 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 72,7%  
Jerman menjual emas di bawah Perjanjian Emas Bank Sentral (Central Bank Gold Agreement/CBGA) 1 dan 2 untuk keperluan pencetakan koin emas peringatan.
Pada  tahun pertama CBGA3 (2008 - 2009), Bundesbank  menjual sekitar 6 ton emas, dan telah menjual 4,7 ton emas sejak September 2011.
Belum ada perubahan dalam kepemilikan emas Jerman akhir-akhir, tetapi Bundesbank mengumumkan pada Januari akan memulangkan semua cadangan fisik di Paris dan New York Fed.
3. Italia  
Kepemilikan emas resmi : 2.451,8 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 72,2%
Italia tidak menjual emas di bawah CBGA 1 atau 2 dan telah mengumumkan tidak ada penjualan di bawah CBGA3.
Namun pada 2011, bank-bank di Italia meminta Bank of Italy untuk membeli emas dan meningkatkan neraca mereka  menjelang tes stres.
4. Perancis
Kepemilikan emas resmi : 2.435,4 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 69,2%  
Perancis menjual 572 ton emas di bawah CBGA 2,dan di luar perjanjian Perancis dilakukan transfer sekitar 17 ton kepada Bank for International Settlements sekitar tahun 2004 sebagai bagian dari pembelian saham BIS.
Perancis mengumumkan  tidak ada rencana untuk penjualan cadangan emas di bawah CBGA 3.
5. Cina  
Kepemilikan emas resmi : 1.054,1 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 1,7%
Emas masih memberikan kontribusi sangat kecil secara prosentase terhadap cadangan devisa asing China yang mencapai US$ 3,2 triliun dibandingkan dengan rata-rata negara lain di internasional yang mencapai 10%.
Membangun cadangan emas akan sangat penting bagi China dengan melihat pergerakan mata uangnya di dunia internasional. Negara ini juga berharap untuk  membuat cadangan mata uang, menurut Financial Times.
6. Swiss  
Kepemilikan emas resmi : 1.040, 1 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 10,5%  
Pada 1997, negara ini mengumumkan proposal penjualan sebagian dari cadangan emas negara itu karena dinilai sebagai "hal yang diperlukan untuk tujuan kebijakan moneter," menurut World Gold Council.
Negara ini memiliki surplus sekitar 1.300 ton emas dan mulai menjualnya pada Mei 2000. 1.170 ton terjual di bawah CB GA1, dan 130 ton yang di bawah CBGA2. Swiss telah mengumumkan tidak berencana untuk menjual emas di bawah CBGA 3.
7. Rusia
Kepemilikan emas resmi : 969,9 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 9,8%
Rusia telah membangun cadangan emasnya sejak 2006 untuk diversifikasi cadangan mata uang asing, dan untuk membantu membangun rubel sebagai mata uang cadangan internasional.
Pada 2012, Rusia menambahkan kepemilikan 75 ton cadangan emasnya, yang sebagian besar dibeli dari dalam negeri.
8. Jepang  
Kepemilikan emas resmi : 765,2 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 3,2%
Cadangan emas Jepang pada 1950 baru mencapai 6 ton. Bank Sentral baru mulai meningkatkan kepemilikan melalui pembelian emas secara drastis pada 1959, dengan menaikkan pembelian hingga 169 ton dari tahun sebelumnya.  
Pada 2011, Bank of Japan menjual cadangan emas negara tersebut senilai 20 triliun yen untuk meningkatkan perekonomian negara tersebut, dalam rangka menenangkan investor setelah bencana tsunami dan nuklir.
9. Belanda  
Kepemilikan emas resmi : 612,5 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 59,2%  
Kembali pada 1999, Belanda mengumumkan di bawah CBGA1 bahwa mereka akan menjual 300 ton emas selama lima tahun ke depan, tetapi hanya berhasil menjual 235 ton.  
Di bawah CBGA2 (2004/2005 - 2008/2009), negara ini mengatakan akan menjual total 165 ton (yang termasuk 65 ton tersisa dari CBGA1), dan mengumumkan tidak ada penjualan di bawah CBGA3 (dari 2008/2009-2013/2014).
10. India
Kepemilikan emas resmi : 557,7 ton
Prosentase emas dalam cadangan devisa : 9,9%
Reserve Bank of India diketahui membeli International Monetary Fund (IMF) dan menganggap emas sebagai investasi yang aman, tapi negara ini sangat jarang memberikan mengumumkan rencana pembelian emasnya.
Sementara itu, pemerintah telah berusaha untuk mencegah orang membeli logam mulia. Hal itu dilakukan karena impor emas dinilai menjadikan India defisit. (Nur)

Thursday, February 28, 2013

BBKSDA Sumut Sita Alat Berat di Hutan Suaka Marga Satwa Langkat


Tanjung Pura (Analisa). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut, bekerjasama dengan TNI, Polri dan masyarakat menyita alat berat jenis ekscavator (beko), yang sedang beroperasi melakukan perusakan hutan mangrove di hutan Suaka Marga Satwa Karang Gading Langkat Timur, Laut Desa Karya Maju Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat.
Namun, sayang operasi penertiban perusakan hutan negara itu, diduga tercium pemilik alat berat.Sebab, tidak satu orangpun pelaku berhasil ditemukan di lokasi.

Kepala Bidang Konservasi Balai BKSDA Sumut wilayah I, Edward Sembiring S.Hut M.Si, didampingi Ketua Tim Operasi Represif, yang juga Kasi P3B BKSDA Sumut, Joko Iswanto,SP serta Staf Humas BBKSDA Sumut Evansus R Manalu,SH, Rabu (27/2) membenarkan ada aksi perusakan hutan negara di hutan Suaka Marga satwa Karang Gading Langkat Timur Laut. "Satu alat berat ditemukan di hutan sedang merusak hutan mangrove," ungkap Edward. 

Dikatakannya, penertiban melalui opersi represif yang dilakukan pihaknya bertujuan untuk mengembalihan fungsi hutan yang saat ini banyak yang berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit.

Untuk mengembalikan kawasan hutan yang telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, BBKSDA akan mencabut ataupun menebang seluruh tanaman kelapa sawit yang ada. 

"Tanaman kelapa sawit yang berada di lokasi kawasan SM KG/LTL ini, semuanya akan dimusnahkan dan akan dilakukan kembali rehabilitasi hutan dan lahan, yang melibatkan kerjasama dengan pihak TNI," kata Edwar.

Selain menertibkan di hutan swaka margasatawa di Desa Karya Maju, juga melakukan penertiban kawasan hutan dari aksi perambahan berada di dua tempat di Desa Tapak Kuda. Di dua lokasi itu, Tim BKSDA Sumut menemukan hamparan tanaman kelapa sawit dan menghancurkan seluruh tanaman. 

Berdasarkan data yang diperoleh dari BBKSDA Sumut, total kawasan Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut yang rusak dan berubah fungsi mencapai 15.765 hektar yang tersebar di Langkat 9.520 hektar dan di Deli serdang 6.245 hektar.

Aksi perusakan hutan dan pengalihfungsianya menjadi lahan perkebunan sangat berdampak rusaknya ekosistem di sekitar kawasan hutan itu. Dampak paling nyata dirasakan masyarakat setempat yang menetap di sekitar kawasan hutan. Menurut masyarakat, akibat rusaknya kawasan hutan mangrove, bila air laut pasang, pemukiman penduduk setempat akan mengalami banjir. 

Bahkan mereka mengakui, rusaknya kawasan hutan mangrove sangat berdampak terhadap perekonomian masyarakat yang umumnya nelayan tradisisonal. Hutan mangrove berfungsi sebagai tempat resapan air laut dan tempat berkembang biaknya biota laut seperti udang, ikan dan kepiting.

Namun, setelah hutan dirusak hasil tangkapan nelayan semakin menurun seiring semakin minimnya tempat biota laut itu berkembang biak. (als) 

Thursday, January 17, 2013

Mimpi Soekarno pindahkan ibu kota ke Palangkaraya


Presiden Pertama RI, Ir.Soekarno hadir dalam proses pembangunan Kota Palangkaraya
Hidayat: Soekarno sosok negarawan sejatiJakarta sebagai ibu kota negara kini sudah tidak ideal lagi. Kota ini menyimpan segudang masalah. Mulai dari kemacetan akut, kepadatan penduduk, pembangunan tak terencana hingga banjir yang selalu mengintai jika musim hujan datang.

Presiden Soekarno pada tahun 1950-an sudah meramalkan Jakarta akan tumbuh tak terkendali. Soekarno dulu punya mimpi memindahkan ibu kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Mengapa Palangkaraya? Ada beberapa pertimbangan Soekarno. Pertama Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di tengah-tengah gugus pulau Indonesia. Kedua menghilangkan sentralistik Jawa.

Selain itu, pembangunan di Jakarta dan Jawa adalah konsep peninggalan Belanda. Soekarno ingin membangun sebuah ibu kota dengan konsepnya sendiri. Bukan peninggalan penjajah, tapi sesuatu yang orisinil.

"Jadikanlah Kota Palangkaraya sebagai modal dan model," ujar Soekarno saat pertama kali menancapkan tonggak pembangunan kota ini 17 Juli 1957.

Satu hal lagi, seperti Jakarta yang punya Ciliwung, Palangkaraya juga punya  punya sungai Kahayan. Soekarno ingin memadukan konsep transportasi sungai dan jalan raya, seperti di negara-negara lain.

Soekarno juga ingin Kahayan secantik sungai-sungai di Eropa. Di mana warga dapat bersantai dan menikmati keindahan kota yang dialiri sungai.

"Janganlah membangun bangunan di sepanjang tepi Sungai Kahayan. Lahan di sepanjang tepi sungai tersebut, hendaknya diperuntukkan bagi taman sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah pada saat orang melewati sungai tersebut," kata Soekarno.

Untuk mewujudkan ide itu Soekarno bekerjasama dengan Uni Soviet. Para insinyur dari Rusia pun didatangkan untuk membangun jalan raya di lahan gambut. Pembangunan ini berjalan dengan baik.

Tapi seiiring dengan terpuruknya perekonomian Indonesia di awal 60an, pembangunan Palangkaraya terhambat. Puncaknya pasca 1965, Soekarno dilengserkan. Soeharto tak ingin melanjutkan rencana pemindahan ibukota ke Kalimantan. Jawa kembali jadi sentral semua segi kehidupan.

Kini Jakarta makin semrawut, sementara pembangunan di  Palangkaraya berjalan lambat. Hampir tak ada tanda kota ini pernah akan menjadi ibukota RI yang megah.

Hanya sebuah monumen berdiri menjadi pengingat Soekarno pernah punya mimpi besar memindahkan ibukota ke Palangkaraya.
Sumber: Merdeka.com

Monday, January 14, 2013

KNTI Region Sumatera Kembangkan Model Ekowisata Mangrove



Ilustrasi Hutan Mangrove
Langkat, Sumut, 28/11 (ANTARA) – Kesatuan Nelayan Tradisionil Indonesia (KNTI) Region Sumatera mengembangkan model ekowisata mangrove (bakau) di register 8/L di Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
“Kita kembangkan ekowisata mangrove dengan melakukan penghijauan di kawasan tersebut dilahan seluas 300 hektare,” kata Presedium Region Sumatera Kesatuan Nelayan Tradisionil Indonesia, Tajruddin Hasibuan di Pangkalan Brandan, Selasa.
Disampaikannya bahwa ekowisata mangrove tersebut nantinya merupakan perpaduan antara penghijauan dengan pengembangan perikanan.
Untuk langkah awalnya harus dilakukan penghijauan terlebih dahulu dengan melakukan penanaman 266.000 batang mangrove di kasawan tersebut.
Direncanakan mangrove yang akan ditanam dilahan itu berkisar 1,6 juta batang.
Hasibuan mengungkapkan apa yang dilakukan pihaknya ini semata-mata untuk kembali menghijaukan hutan mangrove yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan hampir punah.
“Hutan mangrove dikawasan tersebut kini hampir punah, melalui inilah kita berbuat untuk kembali menghijaukannya,” ujarnya.
Model ekowisata mangrove yang ada ini nantinya merupakan satu-satunya yang ada di kawasan pesisir pantai timur Langkat.
Diharapkan melalui model ekowisata mangrove ini para nelayan akan dapat meningkatkan taraf hidup mereka, melalui kebersamaan antara mereka.
“Model ekowisata ini memungkinkan berkembangnya biota laut yang ada dikawasan tersebut udang, ikan, kepiting, kerang, yang selama ini nelayan semakin payah mencarinya,” ungkap Hasibuan.
Untuk itu berbagai langkah akan terus dilakukan agar kawasan tersebut nantinya benar-benar memberikan kenyamanan buat nelayan untuk mendapatkan hasil yang berlipat ganda dari sebelumnya.
Hasibuan juga berharap dukungan dari pemerintah Kabupaten Langkat dalam hal ini Bupati Ngogesa Sitepu.
“Dukungan dari Bupati akan dapat mewujudkan kawasan ekowisata mangrove yang sudah cukup lama ingin diwujudkan,” ujarnya.
Source : Antara Sumut (281112)

KNTI tanam 266.000 mangrove di register 8/L

LANGKAT – Kesatuan Nelayan Tradisionil Indonesia (KNTI) Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, lakukan penanaman 266.000 pohon mangrove (bakau) di register 8/l kecamatan Brandan Barat, guna mendukung penghijauan pesisir pantai timur Langkat.

“Kita melakukan penanaman mangrove guna mendukung kelestarian lingkungan setempat,” kata Presedium Region Sumatera Kesatuan Nelayan Tradisionil Indonesia, Tajruddin Hasibuan di Stabat, hari ini.

Ia mengatakan, penanaman 266.000 pohon bakau itu sebagai langkah awal dari upaya penghijauan hutan mangrove di kasawan tersebut.

Penghijauan hutan Bakau di kawasan tersebut rencananya mencapai sekitar 300 hektare, dengan kebutuhan bibit 1,6 juta pohon mangrove, ujar Hasibuan.

Hasibuan menambahkan, upaya yang dilakukan itu untuk kembali menghijauan hutan mangrove yang kondisinya sangat memprihatinkan.

“Hutan mangrove di kawasan tersebut kini hampir punah, melalui gerakan penghijauan diharapkan mampu kembali menghijau,” ujarnya.

Tajruddin Hasibuan menambahkan, kawasan tersebut nantinya dapat dikembangkan model ekowisata mangrove, sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan penghasilan nelayan setempat.

Source : Waspada Online (231112)

Ribuan Hektar Mangrove Dibabat untuk Sawit


 Ribuan Hektar Mangrove Dibabat untuk SawitKOMPAS/AUFRIDA WISMI Ribuan hektar kebun sawit tersembunyi di balik mangrove di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, seperti terlihat, Rabu (9/11/2011). Kebun sawit itu dibangun dengan mengonversi hutan mangrove yang kini tersisa tinggal setebal satu meter.
MEDAN, KOMPAS.com- Ribuan hektar kebun sawit di Kabupaten Langkat tersembunyi di kawasan hutan mangrove. Saat Kompas datang ke salah satu lokasi kebun sawit yang mengonversi hutan mangrove di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Rabu (9/11/2011) kemarin, tak terlihat kebun sawit dari perairan. Yang terlihat adalah hijaunya tumbuhan bakau.
Namun begitu kapal mendekat, lapisan pohon bakau hanya setebal sekitar satu meter. Di belakang pagar bakau itu, tanggul selebar empat-hingga lima meter setinggi sekitar tiga meter terbentang memanjang berkilo-kilometer.
Di sebelah tanggul, terbentang 1.200 hektar kebun sawit dengan tanaman setinggi pinggang orang dewasa. Tanggul yang bisa dilalui kendaraan roda empat itu berfungsi untuk menahan air laut supaya tidak masuk ke kebun sawit.
Pohon bakau yang sebelumnya tumbuh rimbun di kawasan itu telah dibabat habis digantikan dengan tanaman sawit.
Presidium Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Region Sumatera Tajruddin Hasibuan mengatakan, UD Harapan Sawita yang mengelola 1.200 hektar areal kebun sawit itu hanyalah salah satu perusahaan yang melakukan konversi hutan bakau menjadi lahan sawit.
Dalam catatan KNTI di Kabupaten Langkat, telah ada 20.100 hektar hutan bakau yang sudah terkonversi menjadi lahan sawit dengan modus yang sama seperti UD Harapan Sawita sejak tahun 2007. Tinggi tanggul bermacam-macam dari tiga meter hingga lima meter. Perkebunan bahkan ada yang dimiliki pejabat tinggi Sumut.

Source: kompas regional (101111)

Pembicaraan Alihfungsi Hutan Mangrove Berakhir dengan Damai


alt
Starberita - Brandan Barat, Sedikitnya 200 an warga Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat mendatangi kantor Desa Lubuk Kertang, minta pertanggujawaban kepada Pengusaha Perkebunan kelapa sawit Sutrisno Akam, warga Kecamatan Gebang Langkat, Rabu (26/9).
Rusli yang mewakili warga yang langsung memasuki ruangan kantor kepala Desa yang disambut baik oleh Kedea A Hadi Yusuf bersama Muspika, meminta ganti rugi alihfungsi mangrove yang telah menimbulkan konflik horizontal di tengah-tengan masyarakat. Pasalnya kawasan hutan Register 8/L yang telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Akibat Alih fungsi tersebut nelayan tradisional di desa tersebut kehilangan mata pencaharian yang sehari-hari mencari kepiting dan memancing ikan, kerena lahan tersebut sudah dijadi kan lahan perkebunan kelapa sawit.

Menanggapi tuntutan warga tersebut, pihak pengusaha besama Muspika menemukan titik temu dalam kesempatan tersebut, dari hasil kesepakatan pihak pengusaha dan warga membuat satu perjanjian warga akan mendapat pembagian hasil panen 12,5% dan ini di sambut baik oleh warga.

Semantara Kedes Lubuk Kertang, A Ahadi Yusuf mengatakan, sangat berterima kasih kepada warganya atas kesepakatan ini. "Mari kita bangun Desa kita bersama sama kita jangan terpengaruh dengan provokasi oleh pihak yang ingin memecah belah kehidupan kita akhir nya kita juga yang rugi",ujar Ahadi.

Kapolsek Pangkalan Brandan, AKP Zainuddin Lubis, yang didamping Waka Polsek Iptu Misrianto, mengatakan dia mengancungi jempol kepada warga Desa Lubuk Kertang dengan menyambut baik hasil kesepakatan ini. "Semoga semua ini ada hikmah nya buat kita semua", kilah nya.(DIN/MBB)


Source : StarBerita.com (270912)