Monday, December 2, 2013

Kurs Dolar AS Ganggu Kinerja Tambang di Sumut


MedanBisnis - Medan. Kenaikan mata uang dolar AS terhadap rupiah yang sudah menyentuh level Rp 12.000, diakui manajemen perusahaan Martabe mulai mengganggu kinerja pertambangan emas di Sumatera Utara itu. Bahkan jika kenaikan dolar berlangsung lama, dipastikan kinerja tambang kerepotan.

Senior Manager Komunikasi Korporat Tambang Emas Martabe, Katarina Siburian Hardono, mengemukakannya menjawab wartawan di sela pelatihan wartawan bertajuk "Mari Kenali Dinamika Pertambangan Indonesia" di Parapat, Minggu (1/12).

Kenaikan dolar saat ini telah mengakibatkan Tambang Emas Martabe milik G-Resources Group Ltd ini, kesulitan meraup keuntungan. Pasalnya, perusahaan harus melakukan pengetatan anggaran pengeluaran dan memotong berbagai biaya yang tidak terkait langsung dengan proses produksi.

Perusahaan tambang yang tercatat di bursa saham Hong Kong ini bahkan harus memotong biaya eksplorasi hingga 50% dari anggaran semula atau hanya sekitar US$ 10 juta. Hal ini pun menyebabkan terganggunya eksplorasi atau penemuan cadangan emas di lokasi lainnya, menambah lokasi Pit Purnama saat ini.

Tidak hanya di eksplorasi, kata Katarina, pemangkasan juga dilakukan untuk biaya-biaya yang sifatnya non-esensial (tidak terkait langsung dengan produksi tambang). Walau demikian, dia menambahkan, pihaknya tidak akan memotong biaya tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). 

Demikian juga pengurangan karyawan, tidak akan dilakukan. Namun pada semester I tahun 2013, perekrutan karyawan baru sempat dihentikan karena karena alasan tren harga emas dan nilai tukar rupiah itu sendiri."Walau demikian, kami akan berupaya sedapat mungkin mencapai target produksi emas dan perak sesuai target. Tahun 2013, target produksi emas 280.000 ounce dan perak 1,7 juta ounce," katanya. 

Kecipratan
Katarina mengatakan, Tambang Emas Martabe di Desa Aek Pining Batangtoru Tapsel ini, pada semester I tahun 2013 meraup pendapatan sebesar US$ 119,5 juta dari penjualan 82.845 ounce emas dan 453.614 ounce perak.

Pada semester itu, pihaknya meraup keuntungan laba bersih US$ 29,28 juta atau setara Rp 278,160 miliar (US$ 1 = Rp 9.500) . Dari jumlah itu, Pemprov Sumut dan Pemkab Tapsel kecipratan 5% atau Rp 13, 908 miliar.

Kemudian 40% atau Rp 5,563 miliar dari Rp 13,908 miliar diwajibkan membantu pembangunan 15 desa lingkar tambang. Hal ini sesuai dengan kesepakatan MoU sebelumnya. Sisanya, yakni Rp 8,344 miliar untuk Pemprovsu 30% atau Rp 2,503 miliar dan 70% atau Rp 5,841 miliar untuk Pemkab Tapsel. (benny pasaribu)

Monday, November 25, 2013

Sumur Gas di Langkat dapat Atasi Krisis Gas di Sumut

gambar_berita
(Analisa/Alimuddin Lubis) RESMIKAN: Gubsu, Gatot Pujo Nugroho didampingi GM Pertamina EP Field Pangkalan Susu, Irwansyah meresmikan pengoperasian perdana sumur ladang gas Benggala I di Kabupaten Langkat, Senin (25/11). Ladang gas baru ini bisa mengatasi krisis gas di Sumut.

Langkat, (Analisa). Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho mengharapkan pengoperasian ladang sumur gas Benggala I di wilayah Pertamina EP Field Pangkalan Susu, dapat menjadi solusi mengatasi krisis gas di Sumatera Utara.

Hal itu dikemukakan Gubsu saat meresmikan pengoperasian sumur ladang gas Benggala I EF Pangkalan Susu di Kecamatan Binjai, Kabupaten langkat, Senin (25/11).

“Saat ini Sumut mengalami krisis gas. Kita harapkan dengan dioperasikanya sumur ladang gas Benggala I di Langkat ini dapat membantu memenuhi kebutuhan gas di Sumut,” kata Gubsu. 

Kebutuhan gas baik industri maupun rumah tangga di Sumut diperkirakan mencapai 22 mmscfd. Pasokan gas ke Sumut hanya mencapai sekira 14,6 million standard cubic feet per day (mmscfd) sehingga Sumut masih mengalami krisis energi terutama gas yang cukup tinggi.

Gatot mengucapkan rasa syukur atas pengoperasian Benggala I yang dinilainya merupakan salah satu langkah bijak yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi krisis energi di Sumut. “Gas yang dihasilkan Benggala I dapat langsung dimanfaatkan industri tanpa melalui proses yang seharusnya dilakukan,” ucap Gatot.

GM Pertamina EP Field  Pangkalan Susu, Irwansyah mengatakan, sumur ladang gas Benggala I merupakan keberhasilan pihaknya dalam upaya menemukan sumber  energi baru berupa ladang gas di Langkat.  

Explorasi yang menelan biaya sekira 16 juta US $ itu, mampu menghasilkan 2,6 million mmscfd setiap harinya dan diharapkan dapat mengurangi krisis energi gas di Sumut.

“Benggala I merupakan investasi yang mahal serta keberhasilan Pertamina menemukan sumber energi baru yang dapat memenuhi kebutuhan energi  gas yang terus meningkat di Sumut,” kata Irwansyah.  

Untuk mengatasi krisi energi yang terus meningkat itu, Pertamina akan terus berupaya melakukan pencarian sumber energi baru. ”Dalam waktu dekat Benggala II, dan benggala III akan segera dilakukan pengeboran, sehingga jumlah produksi gas akan terus meningkat,” tambah Irwansyah.

Pengeksplorasian Benggala II yang akan menelan biaya sekira 20 juta US $ itu, diharapkannya dapat didukung stake holder yang ada di Langkat maupun Sumut.

Sebab diakuinya, pihaknya membutuhkan dukungan moril dari pemerintah daerah maupun masyarakat, agar upaya yang silakukan perusahaan negara itu dapat berjalan baik. (als/rs)

Wednesday, November 13, 2013

Lokasi koin emas di Aceh bekas perakitan senjata 400 ahli Turki

Putroe Canden mengalami kesurupan di Kantor Desa Gampong Pande. Saat kesurupan dirinya meminta pedang dikembalikan.
Lokasi koin emas di Aceh bekas perakitan senjata 400 ahli Turki
Merdeka.com - Gampong Pande (Desa Pinter) heboh menyusul temuan koin emas di rawa-rawa. Di desa yang terletak di titik nol Banda Aceh itu dulunya lokasi tempat perakitan persenjataan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bahkan ketika masa kepemimpinan kerajaan Sultan Alkahar mengundang 400 tenaga ahli perakitan persenjataan dan meriam dari Turki. Saat itu, agenda besarnya adalah untuk mengusir Portugis yang telah menjajah kerajaan Aceh Darussalam saat itu.

"Gampong Pande ini pusat pembuatan senjata, ada banyak meriam besar-besar dibuat di sini, bahkan raja mengundang 400 tenaga ahli dari Turki kala itu," tegas salah seorang sejarawan Aceh, Rusdi Sufi, Selasa (12/11) di Banda Aceh.

Dijelaskannya, perakitan persenjataan tersebut guna untuk melawan penjajahan yang dilakukan oleh Portugis saat itu.
"Portugis saat itu menjajah Aceh Darussalam untuk menghancurkan peradaban Islam kala itu," jelas Rusdi.

Hal ini juga dibenarkan oleh salah seorang kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, bahwa Gampong Pande selain pusat kerajinan juga gudang persenjataan yang besar untuk melawan Portugis. "Benar, di situ juga dulu gudang persenjataan dan tempat perakitan senjata seperti meriam," ulas Tarmizi.

Rusdi Sufi meminta Pemerintah Aceh untuk bertanggung jawab soal kelestarian artefak peninggalan masa kesultanan di masa lampau itu. Pasalnya, itu sudah menjadi cagar budaya yang sudah dilindungi dalam perundang-undangan yang ada di Indonesia.

"Semestinya pemerintah harus bergerak cepat menyelamatkan artefak itu, karena itu cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya," kata Rusdi Sufi di kantornya, Selasa (12/11).

Harusnya, pemerintah proaktif menyelamatkan artefak itu sebagai bukti kejayaan kerajaan di Aceh di masa lampau. "Jangan sampai kekayaan artefak Aceh itu dimiliki oleh orang lain di luar negeri," jelas Rusdi.

Sedangkan kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid menyebutkan, pemerintah semestinya harus mencegah artefak Aceh berpindah tangan pada negara lain. Saat ini, ia sendiri kecewa pada pemerintah yang dinilai lambat dalam bergerak. "Pemerintah harus buat aturan segera terkait dengan itu, semestinya pemerintah harus cepat bergerak dan bila perlu pemerintah menebus koin emas itu dari warga yang menemukannya," tukas Tarmizi.

Selain itu, kepentingan untuk menyelamatkan artefak itu untuk kepentingan pendidikan. Jadi penting pemerintah mempersiapkan tim ahli untuk melakukan penelitian lebih lanjut. "Perlu diteliti lebih lanjut, termasuk untuk kepentingan memastikan keasliannya," sebut Tarmizi.
[tts]

Warga Temukan Dua Pedang Berlapis Emas Peninggalan VOC Kutaraja - Banda Aceh

Warga Temukan Dua Pedang Berlapis Emas Peninggalan VOC
TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH - Perburuan koin emas di Kuala Krueng Geudong, Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, terus berlanjut meski sudah ada larangan.
Pada hari ketiga, Rabu (13/11/2013), suasana semakin heboh dengan ditemukannya sepasang pedang bercap VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/persekutuan dagang bentukan Belanda pada tahun 1602).
Menurut informasi yang dihimpun Serambi, sepasang pedang berbahan dasar besi (kuningan) dan bersepuh emas di beberapa bagian itu ditemukan pukul 15.10 WIB, Rabu (13/11/2013) oleh seorang pemuda yang tidak diketahui identitasnya. Pedang sepanjang lebih kurang satu meter tersebut bertuliskan "Shaver Cool VOC."
Keuchik Gampo Pande Amiruddin menceritakan, sekitar pukul 15.10 wib, warganya memergoki seorang pemuda menenteng goni berisi sesuatu. Ketika ditanyakan apa isi goni tersebut, si pemuda yang mengaku dari Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, tersebut menjawab isinya kayu.
"Karena terlihat agak gugup, warga memeriksa isinya ternyata sepasang pedang. Si pemuda mengaku menemukan pedang tersebut di Kuala Krueng Geudong (tempat temuan koin emas)," kata Amiruddin.
Menurut kesaksian warga Gampong Pande, pemuda tersebut bersama teman-temannya sudah terlihat menuju ke areal Krueng Geudong pada Selasa malam sekitar pukul 23.30 WIB. Sayangnya, setelah benda temuannya diamankan warga, sang pemuda langsung menghilang seperti orang ketakutan.
Pedang VOC yang ditemukan warga di Kuala Krueng Geudong, telah diamankan di Kantor Keuchik Gampong Pande setelah sempat diperlihatkan selama beberapa menit kepada masyarakat yang menyesaki kompleks kantor kepala desa tersebut.
Pada bagian gagang pedang sepanjang masing-masing lebih kurang satu meter itu ada cap VOC. Pangkal gagangnya diyakini berlapis emas menyerupai kepala harimau dengan bilah motif bunga-bunga berwarna putih dengan sarung terbuat dari tembaga.
Bagian dalam pedang itu, menurut kesaksian warga terbuat dari besi putih. "Warga saya melakukan tradisi peusijuek terhadap pedang ini sekaligus kami melaksanakan pengajian dan doa bersama agar terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan," kata Keuchik Amirrudin. (mir/nas)

Monday, July 22, 2013

Perusahaan China-Malaysia Bangun Sawah Rp 20 Triliun di Indonesia


Liputan6.com, Kuala Lumpur : Kelompok agribisnis China-Malaysia tengah berupaya membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu pada November mendatang di Indonesia. Dengan dana investasi US$ 2 miliar (Rp 20,3 triliun), perusahaan China ini berharap bisa memasuki pasar berkembang di tanah air sekaligus memenuhi pasokan beras domestik.
Seperti dilansir dari Malaysia Chronicle, Senin (22/7/2013), perusahaan perkebunan China Liaoning Wufeng Agricultural telah menandatangani nota kesepakatan kerja sama dengan Malaysian Amarak Group dan perusahaan lokal Indonesia, Tri Indah Mandiri.
Wufeng merupakan pemodal utama dalam rencana pengembangan dan pengolahan padi dan kedelai di Subang, Jawa Barat, Indonesia. Amarak diketahui berkontribusi sebesar 20% dari investasi awal di tanah air tersebut. Sebuah laporan menyatakan jumlah investasi tersebut bisa berkembang mencapai US$ 5 miliar (Rp 50,8 triliun).
CEO Wufeng, Ma Dian Cheng mengatakan perusahaannya akan segera mendirikan anak perusahaan lokal lain atas nama Wufeng di dalam negeri. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengadaan beberapa fasilitas proses pengolahan beras terpadu dengan Amarak.
Ma mengatakan 80% dari produksi kelompok perusahaan tersebut akan memenuhi pasar Indonesia. Perusahaan tersebut diketahui akan memproduksi cuka dan minyak dari olahan padi.
Setelah ekstraksi minyak, sekam akan dibakar dan bisa menghasilkan listrik untuk keperluan penggilingan padi. Sementara hasi penggilingan padi dengan silika sendiri dapat digunakan untuk manufaktur ban.
"Dengan fasilitas pengolahan kami, tak ada satupun yang terbuang. Kami adalah perintis dari berbagai teknologi di China dan kami ingin berbagi manfaat teknologi tersebut pada Indonesia," jelas Ma.
Dia lebih lanjut menjelaskan, investasi di Indonesia dapat berkisar di harga US$ 1 miliar hingga US$ 2 miliar yang diperuntukan bagi berbagai penelitian teknis.
Tri Indah sendiri tengah bekerja sama dengan para petani lokal guna menyiapkan 50 ribu hektare (ha) lahan percobaan di Jawa Barat.
Ma mengatakan perusahaan akan berkolaborasi dengan sejumlah universtias lokal untuk mengembangkan teknologi pengolahan padi dan menghasilkan beras berkualitas tinggi.
Sementara Wufeng berencana mengimpor sebagian besar mesin pengolahannya dari China dan menggeser semua mesin lokal yang ada. Ma memastikan kualitas mesinnya lebih baik daripada yang ada di Indonesia.
Sejak didirikan pada 2000, Wufeng memiliki 24 lahan dan 2 ribu karyawan di provinsi Liaoning, China. Perusahaannya terus gencar melakukan perluasan bisnis ke Thailand, Vietnam, Kamboja dimana banyak padi ditanam untuk memasok kebutuhan beras di kawasan China daratan.
Proyek di Indonesia akan menjadi usaha patungan Wufeng yang pertama dan diharapkan dapat memenuhi pasar luar negeri. Direktur Amarak Saadiah Osman mengatakan, usaha patungannya tersebut akan menyediakan modal untuk menggarap lebih dari satu juta hektare lahan persawahan di Indonesia.
Ma mengatakan rencananya untuk tinggal di Indonesia dalam waktu lama mengingat investasi agrikultur membutuhkan kesabaran untuk memperoleh return.
"Kami akan tinggal di Indonesia, karena negara ini pun menyambut baik niat kami," ujar Ma. Dari penawaran saham perdananya pada publik di Shanghai atau Hong Kong tahun ini, dia berencana menambah investasinya sebesar US$ 1 miliar. (Sis/Shd)

Thursday, July 18, 2013

Tiap bayi lahir di Indonesia terbebani utang negara Rp 8 juta

MERDEKA.COM. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada di penghujung kekuasaannya. Sebab, tahun depan Indonesia akan memiliki pemimpin baru yang dipilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres).

Namun, di penghujung pemerintahannya, utang luar negeri Indonesia ternyata malah semakin meningkat. Berdasarkan data yang dirilis oleh Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA), utang Indonesia, per Mei 2013 sudah mencapai 2.036 triliun.

Jumlah itu bertambah Rp 186 triliun hanya dalam kurun waktu enam bulan. "Hasil LKPP (Laporan Keuangan pemerintah pusat) yang diterbitkan oleh BPK tahun 2012, di mana pada akhir Bulan Desember 2012, utang RI baru mencapai Rp 1.850 triliun," kata Direktur Investigasi dan Advokasi FITRA, Ucok Sky Khadafi dalam rilis yang diterima merdeka.com, Rabu (17/7).

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pertumbuhan penduduk Indonesia per tahunnya adalah 1,49 persen. Pada 2013 ini jumlah penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 250 juta orang.

"Bertambahnya jumlah penduduk tersebut disebabkan masih tingginya tingkat fertilitas," kata Kepala BKKBN Fasli Jalal pada pembukaan Parenting Education Dalam Rangka Hari Anak Nasional Tahun 2013, Rabu (17/7) di Auditorium BKKBN, Jakarta Timur.

Artinya, dengan jumlah utang luar negeri yang dimiliki Indonesia saat ini, tiap penduduk dan bayi yang baru dilahirkan ke bumi Indonesia secara otomatis langsung terbebani utang negara sebesar Rp 8.114.000. Jumlah itu diperoleh dari Rp 2.036 triliun dibagi Rp 250 juta penduduk.

Tak hanya itu, besarnya jumlah utang yang dimiliki saat ini menandakan Indonesia tengah menuju menjadi negara bangkrut. Sebab, tanda-tanda menjadi negara bangkrut antara lain adalah; utang pemerintah terus menumpuk, aset negara atau tanah beserta sumber daya alam lainnya sudah dikuasai oleh pihak swasta, cadangan devisa yang terus tergerus dan merosot ke titik nol, pemerintah tidak bisa mengendalikan harga kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan luar biasa, dan pemerintah tidak mampu lagi membayar gaji aparatur negara.

"Lihat saja sekarang, di mana, pada akhir bulan Desember masih USD 112.8 miliar, dan pada akhir bulan Juni sudah tergerus menjadi USD 98.1 miliar," kata Ucok.

Menurut Uchok, utang luar negeri Indonesia semakin membengkak akibat pinjaman yang dilakukan oleh 16 kementerian, lembaga maupun BUMN untuk menggarap proyek pembangunan. Meski proyek sudah berjalan, rupanya pengembalian utang belum sepenuhnya selesai.

16 Kementerian itu antara lain; Kementerian Keuangan (USD 871,1 juta atau Rp 8,3 triliun), Kementerian Negara PPN/BAPPENAS (USD 302 juta atau Rp 2,8 triliun), Kementerian Pertahanan (USD 227,1 juta atau Rp 2,1 triliun), Kementerian Pekerjaan Umum (USD 165,5 juta atau Rp 1,5 triliun), PT PLN (USD 59 juta atau Rp 567,2 miliar), Kementerian Perhubungan (USD 45.6 juta atau Rp 438,6 miliar), (Kementerian Dalam Negeri (USD 21,2 juta atau Rp 204,1 miliar), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (USD 8,9 juta atau Rp 86,1 miliar).

Sementara, Kementerian Kesehatan menghabiskan utang luar negeri sebesar USD 8,4 juta atau Rp 81,1 miliar, Badan Meteorologi dan Geofisika (USD 7,6 juta atau Rp 72,9 miliar), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (USD 1,6 juta atau Rp 15,7 miliar), Kementerian Komunikasi dan Informatika (USD 984,4 ribu atau Rp 9,4 miliar), Kementerian Pertanian (USD 912,8 ribu atau Rp 8,7 miliar), PT Pertamina (USD 353,7 ribu atau Rp 3,3 miliar), Kementerian Agama (USD 262,2 ribu atau Rp 2,5 miliar), dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (USD 7331 atau Rp 70,3 juta).

Wakil Ketua Komisi II DPR Arif Wibowo menilai pemerintah tak memiliki kemauan kuat untuk melunasi utang. Jika ada niat, Indonesia bisa menjadi negara mandiri.

"Pemerintah tidak memiliki kemauan kuat. Jelas mampu," kata Arif saat dihubungi merdeka.com.

Secara sumber daya alam dan manusia, Indonesia merupakan negara yang amat kaya. Saking kayanya, grup musik Koes Plus sampai-sampai pernah membuat lagu dengan judul 'Kolam susu'.

Dalam lagu itu salah satu liriknya berbunyi 'Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.' Lirik itu menggambarkan begitu kayanya Indonesia dengan tanah dan sumber daya alam yang dimilikinya. Namun, nyatanya Indonesia malah tak bisa lepas dari utang.
Sumber: Merdeka.com

Tuesday, July 16, 2013

Pembangunan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu Unit 3 dan 4,2 × 200 MW


PLN BANGUN PLTU PANGKALAN SUSU

Direktur Utama PLN, Nur Pamudji dan Chief Representative
Sinohydro Corporation Limited, Deng Xi mewakili konsorsium
Sinohydro Corporation Limited – PT Nusantara Energi Mandiri sebagai kontraktor pembangunan ikut menyaksikan Direktur Pengadaan Strategis dan Energi Primer, Bagiyo Riawan menandatangani kontrak pembangunan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu Unit 3 dan 4,2 × 200 MW di desa Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, di PLN Kantor Pusat, Jakarta, Senin (15/7).

Proyek PLTU Pangkalan Susu unit 3 dan 4 ini penting untuk menambah pasokan listrik ke Sumatera Utara yang dalam
beberapa waktu lalu mengalami keterbatasan cadangan listrik. sesuai kontrak akan diselesaikan dalam waktu 42 bulan untuk unit 3 dan 45 bulan untuk unit 4. Konsorsium mendapatkan dana pembangunan dari Preferential Buyer’s Credit Pemerintah Republik Rakyat China dan anggaran PLN (APLN). Nilai kontrak proyek PLTU Pangkalan Susu adalah USD 235,964,273 dan Rp 196 miliar.



Wednesday, June 5, 2013

Pelabuhan Pangkalan Susu Siap Beroperasi 2014


PT Pelabuhan Indonesia I menargetkan revitalisasi Pelabuhan Pangkalan Susu di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara selesai 2014.
“Pelabuhan Pangkalan Susu direncanakan beroperasi tahun 2014, setelah seluruh proses pembangunan revitalisasi selesai dikerjakan,” kata Asisten Corporate Secretary Humas PT Pelabuhan Indonesia
(Pelindo) I, Eriansyah.
Pelabuhan eks Japex di Kecamatan Pangkalan Susu itu sebelumnya digunakan secara terbatas untuk aktivitas bongkar muat bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina.
Kebijakan merevitalisasi Pelabuhan Pangkalan Susu telah disepakati melalui naskah kesepahaman bersama atau “memorandum of understanding/MoU” antara PT Pertamina dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat dan PT Pelindo I pada 9 April 2012.
Pola sinergisitas yang disepakati antara PT Pertamina, Pemkab Langkat dan PT Pelindo I menjadikan biaya yang dibutuhkan untuk merevitalisasi Pelabuhan Pangkalan Susu relatif efisien.
Asumsi tersebut didasarkan atas kapasitas Pertamina selaku pemilik aset dan lahan, Pelindo I dengan investasi peralatan, operasional dan perawatan aset, serta Pemkab Langkat sebagai pemerintah daerah yang bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur.
Terkait dengan revitalisasi pelabuhan tersebut, kata Eriansyah, tim dari Pelindo I, Pemkab Langkat dan Pertamina kini sedang melakukan kajian yang terkait dengan aspek legalitas dan teknis kepelabuhanan.
Dari hasil kajian tersebut baru dapat disusun master plant dan biaya yang dibutuhkan untuk merevitalisasi pelabuhan yang berhadapan langsung dengan perairan Selat Malaka itu.
Dia menambahkan keberadaan Pelabuhan Pangkalan Susu kelak akan mampu melayani kegiatan ekspor minyak sawit mentah atau CPO dari sejumlah perusahaan perkebunan di Langkat dan beberapa kabupaten di Provinsi Aceh.
Selama ini CPO yang berasal dari perkebunan di Langkat dan sebagian wilayah Aceh diekspor melalui Pelabuhan Belawan Medan. “Biaya angkutan CPO dari Langkat dan beberapa wilayah Aceh ke Pelabuhan Pangkalan Susu dipastikan lebih murah jika diangkut ke Pelabuhan Belawan,” ujarnya.
Eriansyah membenarkan pengoperasian Pelabuhan Pangkalan Susu akan mampu memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah dan masyarakat di Kabupaten Langkat. “Keberadaan Pelabuhan Pangkalan Susu juga akan mendorong terbukanya berbagai peluang investasi baru

Thursday, March 28, 2013

LAHAN KRITIS EKS TAMBAK SUDAH JADI HUTAN MANGROVE

Oleh: Freddy Ilhamsyah PA


Sekitar 100 hektar lahan kritis bekas tambak udang kini sudah berubah ujud menjadi hutan mangrove yang tumbuh subur di Desa Pangkalansiata, Kecamatan Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Sejak Juli 2007 beberapa lahan kritis bekas tambak udang milik warga setempat yang ditelantarkan pemiliknya dibeli oleh Kha Hua alias Anwar, warga Pangkalansusu pecinta lingkungan hidup yang peduli dan terpanggil untuk mestarikan hutan mangrove yang nyaris punah di Kecamatan Pangkalansusu.
Inilah profil lahan kritis eks tambak yang berubah jadi hutan mangrove/bakau
Lahan kristis eks tambak udang sudah jadi hutan mangrove

Kha Hua berjalan di antara pohon mangrove berketinggian antara 6 sd 7 meter.
Bibit Mangrove yang akan ditanam di lahan kritis eks tambak udang
Bibit Mangrove
Bibit mangrove pilihan yang siap ditanam
Memeriksa bibit mangrove yang akan ditanam
Secara bertahap Kha Hua membeli lahan-lahan terlantar eks tambak udang di Dusun Sei Serai Desa Pangkalansiata untuk kemudian ditanami bibit-bibit pohon mangrove yang dilakukannya sejak Juli 2007. Kini lahan kritis seluas 100 hektar itu sudah dipenuhi oleh lebih dari 1 juta pohon mangrove berketinggian antara 5 sampai 7 meter.

Puluhan hektar lahan kritis eks tambak yang sudah ditanami bibit bakau
Beginilah kondisi lahan kritis eks tambak udang terlantar yang dibeli oleh Kha Hua
Mulai ditanami bibit pohon mangrove/bakau
Lahan kritis eks tambak udang sejauh mata memandang yang sudah ditanami bibit mangrove
Beberapa bulan kemudian bibit mangrove itu mulai tumbuh dan bertunas 
Bibit mangrove yang sedang dalam proses pertumbuhannya
Proses pertumbuhan bibit mangrove cukup menggembirakan.
Pertumbuhan bibit mangrove di lahan terlantar eks tambak udang
Suasana teduh, sejuk dan udara segar dengan elusan angin semilir sangat terasa nyaman saat berada di kawasan clean and green area hutan mangrove telah menguatkan komitmen dan motivasi Kha Hua untuk terus berupaya meningkatkan kerjakeras terhadap upaya pengelolaan dan penglestarian lingkungan hidup untuk generasi mendatang.

Proses pertumbuhan pohon mangrove itu terus dipantau oleh Kha Hua bersama timnya

Lahan kritis eks tambak udang yang terlantar sudah mulai menjadi hutan mangrove

Biota laut mulai menjadikan tempat ini sebagai tempat berkembang biak habitatnya

Anak paluh mulai berfungsi sebagai "rumah bersalin" biota laut.

Suasana sejuk dan nyaman mulai terasa ketika kita masuk ke kawasan hutan mangrove milik Kha Hua
Setelah melihat hasil cerihpayanya yang telah menghabiskan dana milyaran rupiah itu hanya untuk menghutankan kembali lahan kristis yang rusak akibat dampak menjamurnya tambak udang belasan tahun lalu telah membuahkan hasil, jadi timbul mimpi Kha Hua untuk menyulap hutan mangrove miliknya itu untuk dijadikan Kawasan Wisata Mangrove.

Tetapi mimpi tersebut hanya bisa terwujud bila didukung oleh dana yang tidak sedikit jumlahnya.

Kha Hua saat berada di bawah rimbunan pohon mangrove berketinggian 6 sampai 7 meter.
Beginilah sebagian pemandangan pohon mangrove milik Kha Hua
Bandingkan tinggi ukuran manusia normal dengan pohon mangrove milik Kha Hua.

Kha Hua bersama timnya saat menelusuri hutan mangrove miliknya
Seperti diketahui bahwa Kementerian Lingkungan Hidup senantiasa mengajak partisipasi dan kepedulian semua pihak berbuat nyata melestarikan lingkungan demi terwujudnya bumi yang bersih dan hijau. Disesuaikan dengan konteks Indonesia menjadi Ekonomi Hijau : Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan.
Beginilah kondisi jalan lingkar yang rencanakan oleh Kha Hua agar dia dapat menikmati segarnya udara di hutan mangrove miliknya.
Apabila jalan ini sudah siap seluruhnya, maka tidak ada lagi lumpur yang melekat di sepatu pengunjung.
Untuk membuat jalan melingkar di areal seluas sekitar 100 hektar itu sudah pasti memerlukan dana yang cukup besar.
Secara bertahap Kha Hua mulai membuat jalan masuk ke dalam kawasan hutan mangrove miliknya
Makna mendasar dari tema ini adalah urgensi seluruh umat manusia, baik secara individu, kelompok maupun negara, untuk mengubah pola konsumsi dan produksi atau gaya hidup menuju perubahan perilaku yang berkelanjutan.

Kha Hua dan Prayitno (teknisi mangrove)
Berbekal berbagai inisiatif kebijakan dan program yang mendukung penerapan Ekonomi Hijau, diharapkan Indonesia dapat tampil memimpin upaya global menuju pembangunan berkelanjutan sebagaimana yang dicita-citakan bersama.

Pada kesempatan ini penulis mengajak semua pihak untuk terus menjalin kerjasama berupaya menanamkan kesadaran lingkungan hidup kepada sekitar kita. Semoga Allah SWT berkenan memberikan restunya atas niat baik kita semua. Amin.